oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (Bagian ke Sembilan)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Kebudayaan —

SEBELUM Menteri Rangga Usman berkuasa di pulau Bangka sebagai raja kecil yang bebas (vryheren), kekuasaan atas pulau Bangka dan pengaturan adat istiadat serta agama di pulau Bangka yang berpusat di Mentok dilakukan oleh Wan Cek Abdul Jabar yang bergelar Datuk Dalam.

Loading...

——————–

WAN Cek Abdul Jabar diangkat oleh menantunya, sultan Mahmud Badaruddin I Jawo Wikramo menjadi hakim wakil sultan, menjadi kepala di atas sekalian tanah Bangka dari perkara ugama syariat Nabi Muhammad Rasulu’llah salla ‘llahu ‘alaihi wa-sallama, dan Wan Cek Akub dijadikan kepala di atas segala-segala pekerjaan membuat parit di tanah Bangka, maka segala patih dan batin-batin dengan orangnya disuruh coba kerja parit di bawah perintah datuk Akub (Wieringa, 1990:87). Wan Usman atau Datuk Adji putera Datuk Seren, kemudian diangkat menggantikan Datuk Dalam dan Datuk Akub sebagai Menteri Rangga atau wakil sultan di pulau Bangka berkedudukan di Mentok (kampung Keranggan) karena Datuk Akub tidak memiliki putera sebagai penggantinya.

Kedudukan pulau Bangka sebagai daerah Sindang diperkuat oleh sultan kesultanan Palembang dan Menteri Rangga seiring dengan meningkatnya hasil kekayaan dari parit-parit penambangan Timah dan semakin tingginya intensitas ancaman terhadap sumber-sumber kekayaan oleh perompak laut yang mengganas di sekitar perairan pulau Bangka. Sindang adalah sebutan untuk suatu daerah yang berada di perbatasan wilayah kesultanan dan penduduk di daerah Sindang memperoleh status Mardika (merdeka atau bebas).

Tugas utama penduduk daerah perbatasan atau daerah Sindang adalah menjaga perbatasan (Hanafiah, 1995:171). Dalam konteks menjaga perbatasan, khususnya menjaga sumber-sumber penghasilan utama kekayaan kesultanan Palembang Darussalam, pada daerah atau wilayah Sindang biasanya dibangun benteng atau parit pertahanan. Benteng atau parit pertahanan biasanya berfungsi ganda, misalnya pada masa Sultan Abdurrahman (memerintah Tahun 1659-1706 Masehi) dibangun sistem perairan yang dibuat antara Ogan, Komering, dan Mesuji, yang tidak saja digunakan untuk pertanian, namun juga untuk kepentingan pertahanan (Hanafiah, 1995:197-200).

Komentar

BERITA LAINNYA