oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (Bagian Empatbelas)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Kebudayaan —

PADA pasal selanjutnya dari hukum adat Sindang Mardika yaitu Pasal Tiga, diatur tentang kewajiban para batin, para pateh/patih/depati dan Menteri Rangga/Tumenggung, untuk menghadap sultan sebagai tanda setia dan patuh. Bunyi Pasal Tiga adalah: “Tiga Tahun sekali, kepala-kepala itu bersama-sama Menteri Rangga/Tumenggung harus menghadap seri sultan akan mempersembahkan hal ihwal tanah Bangka, tetapi boleh lebih lekas kalau amat perlu”.

Loading...

———————–

KEWAJIBAN menghadap sultan adalah paling sedikit sekali dalam Tiga Tahun atau boleh lebih cepat menghadap sultan bila ada hal-hal yang dianggap penting atau perlu disampaikan dan diselesaikan kepada sultan, terutama menyangkut kepentingan negeri, kepentingan masyarakat dan kepentingan kesultanan. Pada saat menghadap sultan, rangga/tumenggung, depati/pateh/patih dan batin harus menyampaikan atau memberi laporan tentang hal ikhwal kemajuan masing-masing wilayah yang dipimpinnya serta menyampaikan tanda raja dalam bentuk Tiban ataupun Tukon. Tiban adalah pajak dalam bentuk barang atau benda, sedangkan Tukon adalah pajak yang disampaikan ke sultan dalam bentuk uang atau emas.

Ketika menghadap sultan, rangga atau tumenggung bisa langsung menghadap sultan dan kapalnya bisa berlabuh dekat bandar kerajaan tanpa harus melapor kepada menteri yang ada di kesultanan, sedangkan para depati/pateh/patih dan batin sebelum menghadap sultan harus melapor ke menteri yang ada di Palembang dan kapal/perahunya tidak diperkenankan berlabuh di bagian dalam bandar kesultanan.

Kewajiban melapor adalah sebagai tanda setia, akan tetapi sebaliknya bila tidak melapor kepada sultan akan dianggap sebagai penentangan dan bisa dihukum mati. Terkait kewajiban melapor tumenggung kepada sultan, dalam catatan sejarah Bangka, pada masa Sultan Muhammad Bahauddin (Tahun 1776-1803 Masehi) dan yang menjadi tumenggung berkedudukan di Mentok bernama Abang Ismail, bergelar Tumenggung Kerta Menggala. Pada masa ini Abang Ismail Tumenggung Kerta Menggala pernah melapor ke sultan di Palembang dan memfitnah Abang Tawi (kerabatnya sendiri) yang membangun benteng di Teluk Rubiah dengan tujuan untuk melawan sultan.

Komentar

BERITA LAINNYA