oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (Bagian Dua Belas)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Kebudayaan

PADA masa Susuhunan Sultan Ahmad Najamuddin I Adi Kusumo (memerintah Tahun 1757-1776 Masehi), pembinaan dan pemberlakuan adat istiadat serta pengaturan peran lembaga adat di pulau Bangka dilaksanakan dan diatur oleh seorang tumenggung yang diangkat oleh Sultan Palembang dengan kedudukan yang sama dengan tumenggung yang ada di Palembang.

Loading...

Pada waktu itu diangkatlah tumenggung Pertama di pulau Bangka bernama Abang Pahang, anak dari Encek Wan Abdul Khalik atau salah seorang cucu dari Encek Wan Abdul Hayat (Lim Tau Khian). Abang Pahang masih berkerabat dekat dengan Wan Abdul Jabar, menantu sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo (Masa Pemerintahan 1724-1757 Masehi).

—————–

SEBAGAI tumenggung, Abang Pahang memerintah pulau Bangka dengan gelar Tumenggung Dita Menggala dan berkedudukan di Kota Mentok. Sultan Palembang Darussalam juga mengangkat pemimpin-pemimpin rakyat di bawah tumenggung yaitu beberapa depati dan di bawah depati diangkatlah beberapa krio, ngabehi (untuk pulau Belitung), dan beberapa jabatan batin. Jabatan Patih/pateh yang sudah ada sejak masa Keprabuan Majapahit, Kesultanan Johor, Minangkabau dan kesultanan Banten pada masa kesultanan Palembang Darussalam di bawah Sultan Ahmad Najamuddin I Adi Kusumo diganti dengan jabatan Depati.

Di samping jabatan-jabatan pemerintahan kesultanan di atas sultan juga mengangkat para penghulu, imam dan chatib, modin serta kadhi untuk pembinaan masyarakat, adat istiadat dan pengaturan agama Islam, serta diangkat pula jabatan demang dari kerabat dekat sultan yang berkedudukan di pangkal-pangkal di pulau Bangka yang didirikan sultan dan bertugas mengurusi distribusi Timah dari Parit penambangan Timah sampai ke kesultanan di Palembang.

Komentar

BERITA LAINNYA