oleh

Hari ini, Jokowi Lantik Menteri

Artinya, pemilu sebagai mekanisme menentukan siapa yang memerintah dan siapa yang menjadi oposisi. “Mestinya yang kalah legowo menjadi oposisi. Pak Jokowi mestinya tidak mengajak-ngajak. Ini masalahnya bukan semata satu pihak, tetapi dua pihak. Baik Pak Jokowi maupun Pak Prabowo,” imbuhnya.

Dia mengatakan dengan masuknya Gerindra ke kabinet, maka rasionalitas demokrasi tidak terwujud. “Dengan begitu seolah pemilu tidak ada gunanya. Yang menang dan kalah semua mendapat kekuasaan,” tukasnya.

Loading...

Untuk saat ini, yang sudah tegas menyatakan sebagai oposisi adalah PKS. Dosen ilmu politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Yusa Djuyandi mengatakan kekuatan PKS di parlemen tidak akan cukup dalam kerangka checks and balances mengontrol pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin ke depan sebagai oposisi.

“Keberadaan PKS di DPR sebagai oposisi dapat membantu masyarakat mengawasi kebijakan eksekutif. Tetapi jumlah mereka di DPR dapat dikatakan kecil bila dibandingkan dengan partai-partai koalisi pemerintah,” ujar Yusa. Dia menyebut keputusan Gerindra untuk menerima ajakan Jokowi masuk dalam kabinet semakin menambah panjang deretan gerbong partai pendukung pemerintah.

Masuknya Gerindra ke dalam koalisi di satu sisi akan menghilangkan atau melemahkan polarisasi dua kekuatan politik. Tetapi di sisi lain masuknya Gerindra ke dalam kabinet juga dapat semakin melemahkan kontrol terhadap eksekutif. Dari empat partai pendukung Prabowo dan Sandi pada Pilpres 2019, hanya PKS yang menyatakan akan tetap menjadi oposisi.

Komentar

BERITA LAINNYA