oleh

Gagak Bersuara Murai?

HAL yang menjadi sentral dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) adalah, rakyat. Terutama rakyat yang sudah punya hak pilih dan tentunya terdaftar sebagai pemilih. Pertanyaannya, sanggupkah menggenggam rakyat?

—————–

Loading...

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos Grup

RAKYAT tepatnya suara rakyat dalam Pilkada adalah bak burung dara di tangan. Dipegang terlalu kencang, akan mati. Dipegang terlalu kendur, akan lepas. Rakyat dalam era dimana Pilkada langsung serta Pemilu Legislatif yang juga langsung ini sudah berpengalaman ‘ditipu’, ‘dikerjai’, juga ‘diiming-imingi’ oleh para calon. Secara tidak langsung itu sudah mendidik rakyat juga menjadi pandai ‘menipu’, pandai ‘mengerjai’, serta sudah pandai pula ‘meng-iming-imingi’ para calon.

Dengan kondisi seperti ini, berarti tak ada pilihan bagi para peminat menjadi Bupati/Wakil Bupati harus benar-benar berupaya meyakinkan rakyat. Tak cukup dengan sejumlah uang, tak juga bisa lagi sekadar barang, tapi harus benar-benar total dan semuanya. Dan itu tentunya tak bisa hanya sekali dua, melainkan berulang-ulang dan berkali-kali.

***

KENAPA para kandidat –kecuali para incumbent dan beberapa tokoh partai yang sudah populer–, terkesan masih banyak yang menunggu? Para kandidat kebanyakan merasa sudah cukup populer di daerahnya. Ia merasa sudah dikenal karena ketokohannya selama ini. Sehingga merasa ‘belum perlu’ untuk memproklamirkan diri menyatakan akan maju dalam waktu sekarang ini.

Komentar

BERITA LAINNYA