oleh

Damai, Tetap Kritis

KETIKA melihat Jokowi dan Prabowo bertemu lalu berpelukan, reaksi positif dan negatif bermunculan. Lalu, sebaiknya bagaimana?

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos Grup —

Loading...

KETIKA yang ditanyakan itu rakyat biasa, rata-rata menyatakan menyambut positif dan senang.
Namun tidak sedikit pula yang menyatakan kecewa, kok Prabowo begitu?

***

BAHKAN, Persaudaraan Alumni (PA) 212 langsung bereaksi menyatakan kembali kepada khitohnya semula. Yaitu tidak lagi bersama partai manapun. Tidak juga bersama Prabowo atau BPN (Badan Pemenangan Nasional). ”Kami bukan bagian dari apa yang Prabowo atau Jokowi sebut. Yakni Cebong dan Kampret. Buat kami, perjalanan perjuangan ini harus terus berlanjut,” tegas juru bicara PA 212, Novel Bamukmin.

Dia menyatakan PA 212 akan terus berjuang melawan kecurangan. Dia juga mengungkit kematian ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). “Saya ulangi, kami sudah tidak lagi bersama Prabowo-Sandi. Selain itu, kami tidak bisa toleransi terhadap kecurangan. Bahkan sampai terjadi korban nyawa. Baik itu tragedi berdarah 21 – 22 Mei 2019, atau meninggalnya 500 lebih petugas KPPS yang tidak wajar,” jelasnya.

Menanggapi ini, anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade mengatakan pertemuan Jokowi dan Prabowo merupakan pertemuan kebangsaan. “Saya nggak mau menanggapi para pihak satu persatu. Yang jelas apa yang dilakukan Pak Prabowo ini hanya kepentingan kebangsaan, untuk pertemuan kebangsaan, hanya sebatas itu. Tidak ada udang di balik batu,” tegas Andre.

Komentar

BERITA LAINNYA