Bisakah Kecerdasan Buatan mengatur kita lebih baik daripada politisi?
Bisakah Kecerdasan Buatan mengatur masyarakat lebih baik daripada politik? Hipotesis tentang pemerintahan yang “objektif”, yang dipandu oleh data dan bebas dari nafsu dan kesalahan manusia, mungkin tampak menggoda. Namun ini merupakan rayuan yang berbahaya, karena mengacaukan efisiensi sarana dengan makna tujuan.
Seperangkat nilai untuk diatur
Kesalahpahaman terletak pada pemikiran bahwa politik adalah masalah teknis yang harus diselesaikan, padahal kenyataannya adalah seperangkat nilai dan perlu diatur. Suatu algoritma dapat mengoptimalkan suatu proses; tidak bisa menentukan takdir. Dia dapat menyarankan solusi yang paling efisien untuk mencapai suatu tujuan, namun dia tidak memiliki kapasitas moral untuk memutuskan tujuan apa yang seharusnya. Dan politik justru seperti ini: penentuan tujuan secara kolektif, perasaan mendalam yang mengarahkan kita ke satu arah dan bukan ke arah lain. Setiap keputusan publik menyiratkan hierarki nilai. Menentukan apakah akan mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk layanan kesehatan atau pertahanan, apakah akan mendukung pertumbuhan ekonomi atau perlindungan lingkungan, apakah akan melindungi sektor produksi atau meliberalisasikannya bukanlah sebuah operasi matematika. Ini merupakan pilihan normatif, yang mencerminkan visi keadilan, kesetaraan dan kebaikan bersama. Tidak ada sistem Kecerdasan Buatan, betapapun canggihnya, yang dapat menghasilkan skala nilai secara mandiri. Itu hanya dapat menerapkan kriteria yang telah ditentukan seseorang sebelumnya. Dan “seseorang” itu hanya bisa berupa politik, yaitu komunitas yang memutuskan tujuan mana yang ingin dicapai. Ada keberatan bahwa AI dapat mengidentifikasi solusi “terbaik” bagi komunitas berdasarkan analisis prediktif tingkat lanjut. Tapi lebih baik menurut parameter apa? maksimalisasi PDB? Pengurangan kesenjangan? Stabilitas sosial? Kebebasan individu? Setiap parameter mencakup pilihan etis.
Tidak ada netralitas sejati
Dan seperti yang diamati oleh banyak pakar fenomena ini, algoritme tersebut tidak netral: algoritme mencerminkan prioritas yang ditetapkan padanya. Jika ia memutuskan berdasarkan maksimalisasi efisiensi, itu karena seseorang telah menetapkan bahwa efisiensi harus mengalahkan nilai-nilai lain. Namun efisiensi tidak menghilangkan keadilan, dan apa yang efisien belum tentu benar. Lalu ada batasan kedua yang membuat penggantian politik dengan AI tidak mungkin dilakukan: sifat tindakan politik yang historis dan transformatif. Kecerdasan Buatan bekerja berdasarkan kesinambungan statistik, yaitu belajar dari masa lalu untuk memprediksi masa depan. Namun politik, pada titik baliknya yang menentukan, masih terputus-putus. Pencapaian besar dalam demokrasi – perluasan hak-hak politik, pengakuan kebebasan baru, pembangunan sistem kesejahteraan – bukanlah hasil yang paling mungkin dicapai dari data sebelumnya. Itu adalah pilihan yang berlawanan dengan intuisi dibandingkan dengan tatanan yang sudah ada. Politik adalah kemampuan untuk mengatakan: “Sampai sekarang memang seperti itu, tapi tidak benar jika terus berlanjut.” Elemen ketiga, yang sama menentukannya, berkaitan dengan tanggung jawab. Demokrasi bukan sekadar mekanisme pengambilan keputusan; ini adalah sistem atribusi keputusan. Siapapun yang memerintah harus bisa diadili, dikukuhkan atau diganti. Tanggung jawab politik menyiratkan transparansi, akuntabilitas, kemungkinan sanksi pemilu. Jika suatu pilihan menimbulkan kerugian, seseorang harus mempertanggungjawabkannya kepada warga. Sebuah algoritma tidak bisa dipanggil ke tempat pemungutan suara, tidak bisa dipertanyakan di Parlemen, tidak bisa memikul tanggung jawab moral atas keputusannya. Ditambah lagi dimensi empati dan pemahaman terhadap konteks manusia. Politik tidak hanya mengatur sumber daya; mengatur hubungan sosial. Di balik setiap angka ada orang.
Bagaimana Anda memahami penghinaan terhadap marginalitas?
Kecerdasan Buatan dapat menganalisis indikator kemiskinan, namun tidak dapat memahami penghinaan terhadap marginalitas. Politik membutuhkan kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, untuk mengevaluasi tidak hanya efisiensi suatu tindakan, namun juga keberlanjutan sosial dan simboliknya. Lalu ada aspek yang lebih dalam lagi: politik adalah dialog publik. Ini adalah perbandingan antara posisi-posisi yang berbeda, ini adalah mediasi antara kepentingan-kepentingan yang berlawanan, ini adalah konstruksi kompromi. Ini bukanlah hasil yang diperhitungkan, namun sebuah proses yang disengaja. Mengganti perdebatan dengan hasil algoritma berarti mengurangi kewarganegaraan hanya menjadi pengguna belaka. Masyarakat tidak lagi menjadi pihak yang mengambil keputusan bersama, namun menjadi penerima solusi teknis yang pasif. Hal ini tidak berarti menolak Kecerdasan Buatan namun menempatkannya pada peran yang benar. Ia dapat memberikan lebih banyak informasi dengan lebih cepat tetapi tidak dapat menentukan tujuan suatu komunitas. Sebab Negara merupakan ekspresi kehendak kolektif yang diakui dalam seperangkat aturan, simbol, hak dan kewajiban. Ini bukan persamaan tetapi konstruksi budaya dan moral.
Perjanjian diam-diam
Itu adalah perjanjian diam-diam antara kakek-nenek yang membangun dan cucu-cucu yang akan mewarisi; ini adalah pelukan komunitas yang memutuskan untuk tidak meninggalkan siapa pun, bukan karena hal tersebut efisien, namun karena hal tersebut merupakan hal yang benar. Masa depan tidak dapat ditulis dengan rangkaian kode yang dingin, namun harus terus ditelusuri oleh tangan kita, yang tidak sempurna namun kreatif. Kita harus berani mengklaim keunggulan manusia atas teknologi, kompas nilai atas perhitungan probabilitas. Karena politik, dalam arti sebenarnya, adalah seni untuk tetap menjadi manusia di dunia yang serba cepat. Dan jawaban atas tantangan-tantangan masa depan tidak terletak pada sebuah sirkuit, namun pada detak jantung yang masih mampu memimpikan sebuah dunia yang tidak ada, dan kemudian mulai bekerja dan membangunnya bersama-sama.






