oleh

Babel Di PT Timah Akan Perkuat Struktur Perusahaan

Kita masih ingat ketika Bupati Belitung Urip T Alam marah dengan PT Tambang Timah (sebelum menjadi PT Timah Tbk) pada tahun 1970-an. Sang Bupati mengerahkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Belitung untuk membuat patok setiap jembatan kecil atau besar se Belitung, untuk membuat plang guna memperkecil jalan yang hanya bisa dilalui mobil kecil saja. Dengan patok-patok itu, diharapkan truk-truk pengangkut alat berat untuk menambang timah, tidak bisa melewati jalan raya tersebut. Kemarahan ini berlangsung lama sehingga masih sempat membuat anggaran untuk membuat patok dalam APBD Belitung. Tentu saja aktivitas tambang perusahaan negara ini terganggu.

Bahkan pernah Gubernur Eko Maulana Ali tidak begitu respek dengan Direksi PT Timah Tbk. Sehingga sang Gubernur Babel itu berencana untuk mengambil alih pasar timah. Beberapa kali sang Gubernur Babel Eko Maulana Ali melakukan negosiasi langsung dengan user atau pembeli di ruang VVIP di Bandara Depati Amir (waktu itu masih bernama Bandara Pangkal Pinang). Ketika sang Gubernur bertemu calon pembeli timah Babel itu tidak ada yang boleh masuk ke ruang pertemuan, kecuali orang yang dia percayai. Rencana sang gubernur waktu itu, pasar timah dunia akan ditata ulang oleh sang gubernur agar Babel mendapat pendapatan dari timah lebih besar. Dan tentunya saja PT Timah diharapkan jangan lagi dianggap sebagai penantang kebijakan sang gubernur.


Loading...

Tetapi, apa boleh buat, tangan Pemerintah Pusat lebih kuat dari tangan sang Gubernur Babel waktu itu. Buntutnya, Pemerintah Pusat sudah tidak percaya dengan Gubernur Babel, sehingga Pemerintah Pusat merasa perlu untuk menata pasar timah di Indonesia. Disitulah masuk proposal Sinar Mas Group melalui Menteri Perdagangan  era Pemerintahan Soesilo Bambamg Yudhoyono (SBY). Akhirnya muncullah ICDX yang kemudian dianggap hantu oleh pelakon timah di Babel.

Komentar

BERITA LAINNYA