oleh

Aura Petobo di Malam Hari, Anjing Melolong Panjang, Bulu Kuduk Berdiri

PojokSatu.id (grup babelpos.co) mencoba masuk ke dalam area yang sama sekali tak memiliki penerangan itu. Berbekal senter yang cukup besar sebagai penerangan, PojokSatu.id (Grup Babelpos.co) menelusuri jalanan yang sudah tak berbentuk itu bersama Chalik.

Kanan-kiri, bangunan rumah porak-poranda. Tak ada suara. Bahkan serangga malam sekalipun. Gelap, sunyi-senyap. Benar-benar gelap dan sunyi. Lampu penerangan lain hanya didapat dari lampu mobil yang kebetulan melintas. Itupun samar.

Loading...

Aura mistis sudah cukup terasa saat memasuki permukiman yang kini sudah rata dengan tanah itu. Lampu senter memang bisa menembus gelapnya malam cukup jauh. Sampai ke kawasan yang terdampak likuifaksi atau tanah gerak.

Tak ada apapun. Hanya tanah lumpur yang bercampur dengan reruntuhan bangunan yang bisa ditangkap lampu senter. Sekitar 20 meter mendekati kawasan lukuifaksi, bulu kuduk mendadak berdiri. Aura-nya semakin kuat.

Sampai bangunan rumah terakhir paling ujung dan menjadi pemisah dengan kawasan likuifaksi, kaki seperti sudah teramat berat melangkah.

Ditambah, bulu kuduk berdiri tiada henti dan merinding di sekujur tubuh. Sampai di batas itu, Chalik mengajak PojokSatu.id, kembali dan tak meneruskan perjalanan itu.

“Lebih baik kita kembali saja,” ajaknya. “Ada ribuan jasad di sini. Biarkan mereka tenang, biarpun tidak dikuburkan dengan layak,” tutupnya. (fat/pojoksatu)

Komentar

BERITA LAINNYA