46 persen orang India mengatakan keintiman dengan AI terasa ‘membuat ketagihan seperti pornografi’: Survei terbaru

Dawud

AI is becoming an intimacy tool.

Empat puluh enam persen orang India mengatakan keintiman dengan kecerdasan buatan terasa membuat ketagihan, sebanding dengan pornografi.

Temuan tersebut berasal dari survei Gleeden–IPSOS yang dilakukan terhadap 1.500 responden di kota-kota Tier-1 dan Tier-2 di India. Studi ini meneliti bagaimana AI mengubah kencan, hubungan emosional, dan perselingkuhan dalam hubungan modern di India.

Hasilnya menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekedar asisten digital. Kehadirannya menjadi intim. Hampir setengah (46%) responden mengatakan penggunaan AI untuk interaksi emosional atau seksual membuat mereka ketagihan, mirip dengan pornografi.

AI menjadi alat keintiman

Survei menunjukkan bahwa AI digunakan di berbagai lapisan kehidupan pribadi. Sekitar 63% mengatakan mereka telah menggunakan AI untuk meningkatkan keterampilan rayuan atau meningkatkan interaksi kencan, sementara 60% menggunakannya untuk mendapatkan nasihat seksual atau panduan gaya konseling. 64% lainnya melaporkan menggunakan AI untuk mengatasi tantangan hubungan dengan pasangan mereka.

Selain saran, interaksi menjadi lebih langsung: 54% mengatakan mereka telah menyiapkan mitra AI virtual untuk interaksi seksual, dan 58% menggunakan AI untuk pertukaran romantis atau penuh kasih sayang seperti pesan, ciuman, atau persahabatan. Secara keseluruhan, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi beroperasi di latar belakang – AI telah menjadi partisipan aktif dalam ruang emosional dan seksual.

Ketika keintiman AI bertemu dengan moralitas dunia nyata

Temuan ini juga menunjukkan adanya ketegangan budaya yang jelas.

Meskipun 49% responden mengaku memilih keintiman dengan AI daripada berhubungan seks dengan pasangannya setidaknya satu kali, mayoritas (65%) masih percaya bahwa interaksi erotis dengan AI dianggap sebagai perselingkuhan. Hampir 70% mengatakan mereka akan terkejut mengetahui pasangan mereka terlibat dalam pertukaran erotis AI, dan kira-kira proporsi yang sama mengatakan mereka tidak akan merasa nyaman membagikan riwayat obrolan AI mereka.

Kekhawatiran palsu

Temuan penting lainnya: 49% responden melaporkan pembuatan gambar deepfake yang melibatkan selebriti atau orang terkenal.

Tidak seperti keintiman AI, yang seringkali bersifat pribadi, deepfake menimbulkan pertanyaan hukum dan etika seputar persetujuan, eksploitasi, dan batasan digital. Tren ini menyoroti betapa cepatnya kemampuan teknologi dapat melampaui regulasi dan norma-norma sosial.

Sybil Shiddell, Country Manager untuk Gleeden India, mengatakan, “Kami melihat perubahan emosional terjadi ketika AI tidak hanya menjadi alat fungsional namun juga tempat di mana orang dapat mencari validasi, berfantasi, atau menemukan kenyamanan. Banyak orang menjelajahi dunia baru ini secara diam-diam, merasa bersalah dan penasaran pada saat yang sama, namun banyak dari orang-orang ini yang merasa pasangannya tidak setia karena melakukan hal yang sama.”

Ia menambahkan, “Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengubah hubungan kita, namun bagaimana caranya, seberapa besar dampaknya, dan bagaimana perubahan ini akan memengaruhi hubungan emosional kita?”

– Berakhir