oleh

Thew Fu Sui & Politik 2019

Oleh: AHMADI SOPYAN – Penulis Buku/Pemerhati Sosial
PESTA demokrasi seharusnya adalah pesta kualitas diri bukan sekedar pesta jual diri (baliho dengan muka besar), pesta pengujian diri ditengah masyarakat, pesta pendidikan politik untuk semua orang, pesta karya dan pengetahuan tentang dapil (daerah pilihan), pesta solusi untuk negeri bukan sekedar pesta berebut kursi…

————

loading...

TADI MALAM, bersama kawan-kawan muda, baik dari kalangan Melayu maupun Tionghoa (yang pasti kawan-kawan Amoi), saya dan kawan-kawan tersebut pergi “musoi” (minum thew fu sui bersama-sama) di salah satu sudut Kota Pangkalpinang. Tentunya “musoi” lebih nikmat jika ditemani oleh kue-kue khas masyarakat Bangka.

Thew fu sui (sering terucap “tai fu sui) adalah minuman khas masyarakat Pulau Bangka yang sejak tempoe doeloe sudah sangat populer, khususnya di wilayah perkotaan seperti Pangkalpinang, Sungailiat, Mentok, Toboali dan Koba. Thew Fu artinya tahu dan sui artinya adalah air. Aktifitas minum bersumber dari saripati kedelai yang digiling dan dimasak ini disebut dengan “musoi” (minum Thew fu sui bersama-sama). Asal muasal minuman yang bisa dinikmati dalam keadaan panas maupun dingin ini adalah dari masyarakat Tionghoa yang ada di Pulau Bangka, namun dapat dinikmati oleh berbagai kalangan maupun etnis.

Diakui, bahwa Bangka Belitung adalah negeri yang kaya. Tak hanya soal timah, lada dan sawit yang mendunia, tapi keharmonisan masyarakat disini adalah aset kekayaan terindah dan termahal. Salah satu harmoni masyarakat di Bangka Belitung dapat dilihat dari kekayaan kuliner, yang memiliki filosofi harmoni dalam keragaman. Berbagai jenis makanan dan minuman dari negeri kita ini memiliki kisah (sejarah) dan latar belakang yang unik. Tak hanya itu, tapi juga memiliki nilai filosofi tinggi untuk kehidupan kita jika sedikit saja meluangkan waktu untuk menggalinya.

***

PERGOLAKAN politik kekuasaan 2019 sudah kian panas. Baliho raksasa dan spanduk para Caleg sudah menghiasi setiap sudut jalan hingga kuburan. Wajah-wajah penuh senyuman serta kata-kata narsis pengakuan kehebatan diri semakin semarak. Begitulah wajah pesta demokrasi kita yang masih konvensional. Lebih banyak menjajakan diri ketimbang menunjukkan kualitas diri, lebih suka nampang muka ketimbang nunjukin karya, lebih sibuk soal kursi ketimbang membuat prestasi.

Komentar

BERITA LAINNYA