oleh

Tenaga Kerja Asing

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku / Pemerhati Sosial
MAYORITAS kita sebetulnya adalah Tenaga Kerja Asing, yaitu kita yang asing terhadap pekerjaan sendiri karena terpaksa, yakni walau tak berbakat dan kurang minat, tapi bekerja ditempat tersebut. Bakatnya dagang, tapi masuk partai politik atau birokrasi, sarjana pertanian tapi jadi pengamat politik, begitulah asingnya kita.

————-

loading...

AKHIR-AKHIR ini kita diributkan dengan Tenaga Kerja Asing, terutama dari China yang menyerbu Indonesia. Tak dipungkiri bahwa serbuan para pekerja asing tersebut akan membuat semakin tergerusnya kesempatan dan lapangan pekerjaan. Berbagai proyek dibangun di negeri ini, akan dikerjakan oleh para pekerja asing.

Disini saya, tidak membahas soal pekerja asing yang terus menyerbu Indonesia, karena kapasitas untuk berbicara itu tidak ada sama sekali dalam diri saya. Apalagi konon, hal tersebut terjadi tidak lepas dari deal-deal politik tingkat tinggi. Tapi saya ingin berfilosofi sederhana tentang Tenaga Kerja Asing yang sesungguhnya begitu marak dalam pribadi-pribadi anak Indonesia yang tak lepas dari masalah sistem pendidikan kita dari dulu hingga sekarang yang tak kian berubah.

Jum’at lalu, di kolom TARING (Catatan Ringan) ini sudah saya jelaskan tentang lemahnya sistem pendidikan kita di Indonesia dalam judul “Mutu Pendidikan yang Tak Bermutu”. Kurikulum yang terlalu bersifat teoritis, guru, murid dan sekolah serta dinas pendidikan yang fokus mengejar nilai, pemerataan kualitas pendidikan yang tak merata, menjadikan dunia pendidikan sebagai ajang proyek dan sebagainya adalah bagian dari kelemahan sistem pendidikan kita saat ini yang melahirkan manusia-manusia pabrik dan sekolah atau kampus adalah pabriknya.

Sekolah, kampus atau lembaga pendidikan kita sekaligus negara adalah wadah terbesar yang menciptakan para pekerja asing. Kurikulum pendidikan kita yang terlalu bersifat teoritis menjadi salah satu pemicunya. Karena kurikulum pendidikkan yang bersifat sangat teoritis sehingga membuat peserta didik tidak bisa berbuat banyak setelah menyelesaikan pendidikan.Sehingga pratikum dan pembekalan soft skill dan hard skill bagi peserta didik sangat penting guna menunjang lulusan yang berkualitas, sehingga bisa memberi kontribusi yang nyata bagi bangsa Indonesia.

Komentar

BERITA LAINNYA