oleh

Tembung Laku

Akhmad Elvian – Sejarawan Bangka Belitung Penerima Anugrah Kebudayaan —

Sagu tampin diparut orang
Kalau ditumbuk menjadi laksa
Laku pemimpin diturut orang
Kalau buruk negeri binasa

loading...

Adat Melayu pantang berkasar
Berlaku kasar sifatnya iblis
Jahatlah laku orang pengingkar
Berlaku ingkar adat terkikis

TEMBUNG Laku adalah salah satu Pasal dalam ketentuan Hukum Adat “Sindang Mardika” yang berlaku di pulau Bangka pada pertengahan abad 17 Masehi. “Tembung” dalam bahasa Melayu berarti “berlarangan” dan “Laku” dalam bahasa Melayu berarti: “perbuatan, perangai, tabiat”.

Terdapat 2 Pasal dari 45 Pasal dalam hukum adat Sindang Mardika yang mengatur tentang “Laku” masyarakat di pulau Bangka. Pengaturan pertama terdapat pada Pasal 34 dengan bunyi pasalnya “jikalau satu orang bikin huru-hara dengan mulut atau kelakuan atau dengan lain-lain hal sebab jadi satu kecideraan atau kemaluan di dalam itu kampung. Dengan sebab itu hal, maka didenda 2 sampai 24; tiga bagian kepada yang mendakwa, satu bagian kepada kepalanya di situ”.

Pasal yang kedua yaitu pada Pasal 27 dengan bunyi pasalnya: “Jikalau mengamar (memerintahkan atau memberitakan) mau membunuh atau membakar rumah atau lain, buat orang punya celaka, kena denda 6 sampai 26, kepada kepalanya yang dapat”. Disamping ketentuan tentang Laku, hukum adat Sindang Mardika juga mengatur tentang ketentuan adat istiadat: mata pencaharian hidup, hubungan tata pergaulan dan sistem kekeluargaan, perkawinan, pajak, pemerintahan dan ketentuan tentang sanksi serta hukuman.

Komentar

BERITA LAINNYA