oleh

Senyum Caleg

Di sisi lain, dengan kondisi ekonomi, karakter budaya dan tingkat pendidikan rakyat, demokrasi di Indonesia sampai saat ini belumlah mampu dimaknai secara substantif. Pemilu sebagai perwujudan demokrasi kadangkala tidak lebih hanyalah sebuah pesta bagi pemilih. Oleh karenanya, layaknya sebuah pesta, akan muncul anggapan bahwa pemilu itu sesuatu yang berlangsung singkat. Pemilu hanyalah proses selama lima menit dibilik suara untuk mencoblos nama atau gambar parpol yang dianggap tidak memiliki implikasi apapun dalam jangka panjang.

Celakanya, pasca reformasi kran demokrasi yang terbuka lebar melahirkan banyak parpol dan memungkinkan ada banyak caleg yang bersaing. Maka berlakulah hukum pasar, di mana penawaran yang berlimpah, akan menjatuhkan harga. Artinya dengan ada banyak parpol dan banyak caleg, suara rakyat menjadi punya nilai ekonomis. Siapa caleg/parpol yang mau membeli suara, kepada dialah suara akan dijual.

Akibatnya jelas, tentu saja ongkos politik di Indonesia menjadi sangat mahal. Demokrasi pun lebih banyak ditentukan dari seberapa kepemilikan modal materi yang berani dibelanjakan atau lebih dikenal dengan demokrasi “wani piro”. Money politics, meski bukan menjadi satu-satunya faktor penentu, tetap merupakan kekuatan yang menentukan.

***
NAH, April 2019, seluruh warga negara Indonesia yang baik pastinya akan datang ke TPS untuk memberikan suaranya kepada Capres-Cawapres, Caleg dan Calon DPD RI. Tentunya sejuta senyuman yang ditampilkan para Capres/Cawapres dan Caleg itu menghasilkan yang terbaik, yakni Indonesia Tersenyum bahagia karena Pesta Demokrasi 2019 berjalan aman, damai dan terpilih yang terbaik diantara yang baik. Semoga senyuman itu ada pada setiap warga negara Indonesia walau berbeda dalam pilihan. Insya Allah Indonesia lebih baik, Adil dalam penegakan hukum dan Makmur masyarakatnya….
Salam Senyum!(*)

Komentar

BERITA LAINNYA