oleh

Sebagian Kegiatan Pembangunan di Desa Penutuk, Fiktif

“Pembangunan tambat labuh perahu itu akhirnya diselesaikan sendiri oleh masyarakat secara swadaya, ada yang membantu dana serta bahan material sehingga bangunan tambat labuh perahu itu selesai. Namun anehnya anggaran yang dialokasikan Pemdes dalam pelaporan atas penggunaan anggaran itu terealisasi, sedangkan fakta yang terjadi dilapangan tidak pernah sama sekali menggunakan sumber anggaran yang dialokasikan oleh Pemdes, kecuali 2 kubik papan yang nilainya Rp 4 juta,” kata Erdi dan Jumli.

Erdi mengakui, alasan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Dusun (Kadus) I Desa Penutuk pada November 2018 lantaran tidak sejalan lagi dengan Kepala Desa (Kades) Penutuk, Saparudin. Hal yang sama juga diutarakan Jumli, bahwa pada 2018 lalu telah resmi mengundurkan diri dari jabatan sebagai Kepala Urusan (Kaur) Pembangunan Desa Penutuk.

Loading...

loading...

“Kami merasa sudah tidak sejalan lagi dengan Kades (Kepala Desa) Penutuk, Saparudin. Sebetulnya, sejak 2017 mau mengundurkan diri. Tapi ada masukan dari masyarakat dan kawan-kawan di Desa, jika kami mengundurkan diri, lalu siapa lagi yang akan mengurus masyarakat di Desa,” tutur Erdi dan Jumli berharap kepada aparat terkait baik Kepolisian, Kejaksaan dan tim internal Pemkab Bangka Selatan agar dapat menindaklanjuti permasalahan ini dengan melakukan audit kembali terhadap seluruh anggaran Desa Penutuk pada tahun 2016 dan 2017. Karena dalam pelaporan atas pertanggung jawaban terhadap penggunaan APBDes 2016 dan 2017 diduga fiktif.

Komentar

BERITA LAINNYA