oleh

Politik, Kelekak dan Tudung Saji

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku/Pemerhati Sosial
KELEKAK memiliki makna mendalam dari para orangtua kita. Mereka menanam untuk anak cucu, bukan untuk diri sendiri. Kelekak bisa diartikan “Kelak Kek Ikak” (nanti untuk kalian). Begitulah seharusnya para politisi belajar dari makna kearifan lokal dalam tujuan politik.

————–

loading...

TAHUN politik adalah tahun pencitraan dan unjuk penampilan. Sandal jepit bisa menjadi bahan pencitraan ditengah rakyat kian kejepit karena ekonomi morat-marit, kaos oblong bisa menutupi banyak perilaku bohong, jubah panjang bisa merubah penampilan, sorban lebar bisa menjadikan seseorang seakan-akan besar, bahkan kearifan lokal yakni nganggung dan tudung saji sekalipun bisa dipolitisir.

2018 dan 2019 adalah tahun penuh pencitraan, tahun dimana kita rakyat jelata akan mudah disilaukan oleh kabar berita dan pencitraan. Tahun dimana “keringol” para calon pejabat dipoles sedemikian rupa. Tahun dimana rakyat dielu-elukan karena besarnya pengharapan. Tahun dimana rakyat yang hanya bisulan dipantat saja diurus bagaikan pelayan beneran. Tahun dimana pemberitaan disetir dan diolah sedemikian rupa. Tahun dimana semua timses adalah “wartawan” bagi sang calon yang dielukan.

2018 dan 2019 adalah tahun dimana semua orang bisa menjadi “Mak Erot” yakni “kerjanya” membesarkan sesuatu yang kecil. Tahun dimana-mana bertebaran wajah ganteng dan cantik disepanjang jalan. Tahun dimana semua orang menjadi iklan dan diiklankan. Tahun semua timses menjadi “intel” dadakan. Tahun semua orang bisa menjadi pengamat dan komentator bak orang kesohor. Tahun dimana yang benar bisa salah yang salah bisa dibenarkan sesuai kebutuhan dan kepentingan. Tahun dimana semua aib bisa dibongkar pasang dan fitnah bisa kemana pun hendak mengarah.

So, sebagai rakyat (pemilih), kecerdasan dan kebijaksanaan mutlak diperlukan. Cerdas dalam melihat “keringol” yang sesungguhnya dari sang calon yang ditawarkan atau menawarkan diri. Bijaksana dalam membaca berita dan mengolah rasa, agar tak muda menerka dan tak salah sangka. Jangan melihat dan mendengar satu sisi saja, namun harus “kawa” menelusuri sesuatu apalagi mengenai pemimpin. Harus pandai membuat keputusan memilih siapa dan untuk apa. Jangan kotori demokrasi hanya karena pemberian pribadi, tapi warnai demokrasi dengan pembangunan bagi orang banyak, bukan golongan apalagi pribadi.

Komentar

BERITA LAINNYA