oleh

Pilkada dan Dukun

KETIKA calon yang didukungnya kalah, seorang tim sukses langsung meradang.
”Saya tahu persis, jagoan kita kalah karena lawan kita main dukun!”
”Tahu dari mana?” sahut temannya.
”Dukun kita yang bilang?”

Oleh: Syahril Sahidir – General Manager Babel Pos

loading...

DUNIA politik tak bisa lepas dari mistik. Ketika mendengar seorang pemimpin politik atau anggota dewan mempunyai penasihat sipirutual seorang kyai, kita jangan dulu keburu bangga. Kalau memang kyai dimaksud seorang ahli agama, tentu ini acungan jempol patut diberi. Hanya kadang, sungguh di luar dugaan, ternyata kyai yang dimaksud bukan mengajarkan bagaimana agar khusu’ shalat wajib, tetapi justru memberikan jampi-jampi mengutip ayat untuk dirapal ketika saat menghadapi hajatan politik tertentu. Ini, kyai atau dukun?

Memang, jika mau jujur, inilah negeri ini. Nyaris semua sisi kehidupan negeri ini tak bisa lepas dari mistik. Meski kadang dikatakan bahwa itu adalah salah satu bentuk menyekutukan Tuhan atau syirik, namun kadang dibantah dengan dalih bahwa itu juga salah satu bentuk ikhtiar? Kadang, dalihnya lagi, kita melakukan semua ini karena yang lain juga begini? Yang lain lebih dulu memulai? Lalu siapa yang lebih dulu? Yah, ibarat menebak antara telur dengan ayam? Hebatnya lagi, hal-hal yang berbau mistik ini juga tak hanya urusan keseharian sang ‘murid’, tapi juga merasuk ke sendi-sendi teknis politis.

Jangan heran, menghadapi Pilkada seperti di Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, dan Kabupaten Belitung sekarang ini kita justru mendengar selentingan bahwa pemenang untuk Pilkada di Bangka atau di Pangkalpinang atau di Belitung adalah yang mendapat nomor urut sekian. Yang lain hanya penggembira saja. Dan menariknya, lain dukun lain pula nomor keberuntungannya. Tapi nantinya, ketika pemenang sudah ditentukan, akhirnya semua dukun ternyata berpendapat sama?!

***

KITA ingat, Presiden RI yang paling nyeleneh KH Abdurrahman Wahid. Ia secara vulgar dan terang-terangan menyatakan memang sering berkunjung ke makam-makam orang shaleh untuk meminta petunjuk. Ketika ditanya alasannya, Presiden kita yang cerdas dan nyeleneh ini memberikan jawaban yang cerdas dan nyeleneh juga; karena orang mati menurut Almarhum sudah tidak mempunyai kepentingan apa-apa seperti orang hidup. Inilah Gus Dur.

Komentar

BERITA LAINNYA