oleh

Pers & Politik

TANGGAL 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN) –yang tahun ini dipusatkan di Surabaya Jawa Timur. Dan sepertio biasa, dihadiri langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos Grup

———————-

SEBUAH media, baik cetak atau elektronik adalah milik publik. Lebih-lebih sekarang ini, media sosial (Medsos).
Bahwa media sekarang ini tidak bisa lepas dari kepentingan politik, bisnis atau industri, semua orang juga memakluminya. Namun, eksistensi media sebagai hak publik, hak rakyat, menyuarakan suara rakyat, tetap harus dinomorsatukan.

Jika ada kecurigaan publik atas suatu berita, itu sah-sah saja. Jika ada berita mendadak hilang dari peredaran sehingga dicurigai karena ada sesuatu, juga sah-sah saja. Hanya hal yang perlu diingat, kadang media jadi lelah dan bosan menulis suatu berita ataui suatu kasus, jika perkembangannya dari itu-itu saja.

***

MEDIA memang punya kepentingan bisnis dengan berbagai keterkaitannya dalam peristiwa politis. Sebuah peristiwa juga akan banyak ditunggangi atau ada kepentingan politisnya. Tapi, itu bukan menjadi bahan pertimbangan bagi media untuk memuat atau tidaknya. Melainkan akan menjadi lebih bijak jika itu dijadikan berita atau dikuak dengan data yang mendalam bahwa ada kepentingan politik di balik suatu peristiwa.

Media juga harus mempertahankan jati dirinya, jangan justru terkesan begitu mudah dikontrol dan diatur sampai bisa dimintai tolong untuk memuat atau tidak atas suatu peristiwa yang nyata-nyata sudah diketahui publik. Soal, publik akan menilai suatu media berpihak kemana, biarkanlah itu urusan publik. Media tetap harus mempertahankan jati dirinya untuk memuat guna pemenuhan hak publik.

***

BAGAIMANA pers menghadapi Pemilu 2019 ini?
Ah, sudahlah. Biar berpuluh kali batang berganti, cacing tetap di bawah juga. Biar berpuluh kali pimpinan dan wakil rakyat berganti, nasib rakyat tetap begitu-begitu juga.

Komentar

BERITA LAINNYA