oleh

Pengaruh Perang Amir (Bagian Ketiga)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarahwan Bangka Belitung —
AKIBAT Pemberontakan Amir, produksi timah yang dihasilkan parit-parit penambangan di seluruh distrik di pulau Bangka terhenti. Pemasukan keuangan negara dari Timah sebagai tambang emas bagi kekayaan Hindia Belanda merosot tajam.

——————

loading...

SETELAH perang berakhir, terutama setelah Depati Amir dan Hamzah atau Tjing dibuang ke keresidenan Timor, produksi Timah terus meningkat, jika pada tahun 1850 saat berkecamuknya perang, produksi timah yang dihasilkan sangat rendah hanya sebesar 51.536 pikul, maka pada pertengahan tahun 1851 atau setelah peperangan, jumlah produksi timah yang dihasilkan meningkat sangat signifikan dengan produksi sebesar 89.865 pikul. Produksi timah yang meningkat dikarenakan pulihnya keamanan dan ketentraman penduduk serta banyaknya perbaikan-perbaikan yang dilakukan pemerintah. Untuk mempercepat produksi Timah Pemerintah Hindia Belanda juga melakukan pembukaan tambang-tambang baru di daerah pedalaman pulau Bangka.

Salah satu pengaruh perang Amir di pulau Bangka yang sangat penting bagi penduduk pulau Bangka adalah mulai diperhatikannya sektor kesehatan, pendidikan dan kehidupan keagamaan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Satu-satunya yayasan rumah sakit untuk orang-orang Cina penderita Lepra di Kota Muntok, memperoleh bantuan dari pihak pemerintah melalui ketentuan berdasarkan keputusan tanggal 15 Juli 1850 Nomor 11. Pajak yang dikenakan untuk pengiriman uang perak Spanyol oleh pekerja-pekerja tambang ke daerah asalnya di Cina yang dipungut di Muntok sepertiganya dikirim ke Cina dan sisanya disalurkan untuk membantu operasional yayasan rumah sakit Lepra.

Di Kota Muntok, bagi umat Islam sudah tersedia satu masjid yaitu masjid Jamik (masjid dalam bentuk seperti sekarang dibangun pada tanggal 19 Muharram 1300 Hijriyah) yang berfungsi sebagai tempat ibadah dan pendidikan bagi umat dan anak-anak muslim. Bagi orang-orang Cina sudah tersedia satu kelenteng yaitu kelenteng Kung Fuk Miau dibangun pada Tahun 1820 Masehi yang kemudian letaknya berdampingan dengan masjid. Di distrik Pangkalpinang juga terdapat kelenteng yang cukup besar dan bersih. Kelenteng di Pangkalpinang yang dimaksud adalah kelenteng Kwan Tie Bio (pada masa Orde Baru nama kelenteng diubah menjadi kelenteng Amal Bakti), dan setelah terbakar pada tanggal 22 Februari 1998, dipugar pada tanggal 5 Agustus 1999, kelenteng diberi nama sesuai nama aslinya yaitu Kwan Tie Miaw. Kelenteng didirikan pada Tahun 1841 Masehi (dilihat dari angka tahun aksara Cina pada lonceng di dalam kelenteng) dan diresmikan pada Tahun 1846 diketahui dari papan ucapan selamat dari beberapa perkumpulan kongsi penambangan Timah di pulau Bangka, pada hari baik bulan baik Daoguang yang bertepatan dengan Tahun 1846 Masehi (Elvian, 2005:51). Di distrik-distrik lainnya di pulau Bangka, rumah ibadah dan toa pekong kecil disediakan dan diperbolehkan dibangun oleh orang-orang Cina untuk keperluan peribadatannya.

Komentar

BERITA LAINNYA