oleh

Pengaruh Perang Amir (Bagian Kesatu)

Pemberlakuan blokade laut oleh kapal-kapal perang bertenaga uap terhadap pulau Bangka untuk mengatasi masuknya distribusi senjata dari luar pulau Bangka kepada pasukan Depati Amir dalam perang Bangka, berakibat pulau ini terisolir secara politik dan ekonomi. Setelah usainya perlawanan rakyat terutama setelah perlawanan yang dipimpin Depati Amir blokade laut mulai dibuka oleh pemerintah Hindia Belanda. Residen Belanda dalam suratnya tanggal 14 Februari 1850 Nomor 396 telah mengusulkan kepada pemerintah di Batavia untuk mengizinkan perahu-perahu pribumi yang dibuat di pulau Bangka agar dapat langsung berlayar dari dan menuju ibukota distrik di daerah jajahan kolonial Hindia Belanda lainnya. Pembukaan blokade ini sangat penting artinya bagi kepentingan perdagangan dan kesejahteraan penduduk pulau Bangka, terutama bagi kelancaran arus pasokan kebutuhan pangan dari luar pulau Bangka. Pembukaan blokade tidak hanya dilakukan terhadap perairan laut akan tetapi dilakukan juga terhadap sungai-sungai dan teluk. Dengan pembukaan blokade terhadap sungai dan teluk di pulau Bangka akan mendorong dan mempermudah distribusi serta peningkatan pasokan pangan oleh pedagang ke berbagai daerah pedalaman di pelosok dan distrik pulau Bangka. Peningkatan produksi penangkapan ikan, teripang, dan pengumpulan rumput laut oleh nelayan dan oleh pribumi Bangka orang Laut suku Sekak juga meningkat akibat pembukaan blokade di laut.

Demi kepentingan perkapalan atau pelayaran umumnya dan khususnya bagi kapal-kapal uap yang melakukan aktivitas perdagangan melalui selat Bangka, terutama bagi kapal-kapal yang akan memasuki pelabuhan Muntok sebagai pelabuhan utama di pulau Bangka, maka pemerintah Belanda pada tahun 1851 mulai membangun mercusuar di Tanjung Kalian Muntok. Pembangunan mercusuar bertujuan memandu kapal-kapal laut terutama pada malam hari untuk menghindari karang yang berbahaya di alur pelayaran selat Bangka yaitu karang Haji yang berada di posisi sebelah utara dan karang Brom yang berada di posisi sebelah selatan Kota Muntok. Pemerintah Hindia Belanda juga membangun dan memperbaiki fasilitas dermaga laut di pelabuhan Muntok untuk mempermudah aktifitas bongkar muat dan pendaratan kapal yang akan berlabuh di pelabuhan. Dalam Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1851, No.42, Pelabuhan Muntok selama tahun 1851 telah dikunjungi oleh 77 kapal dan 380 perahu tradisional termasuk 3 wangkang yang menyetorkan pengangkutan senilai f 634.770 dan ekspor senilai f 423.170 termasuk f 324.060 uang logam. Diantara kapal-kapal ini terdapat 5 kapal milik orang Tionghoa dari pulau Bangka.(***/Bersambung)

Komentar

BERITA LAINNYA