oleh

Pengaruh Perang Amir (Bagian Kesatu)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarahwan Bangka Belitung
DEPATI Amir, begitu Ia disapa, gelarnya oleh orang Eropa sebagai “ Orang Yang Berbahaya” (ist ein gefahrlicher Mensch), Pemberontakannya di Bangka melawan pemerintah Hindia Belanda mengguncang jagat Batavia, Bangka dalam status “staat van beleg” (darurat perang), tidak kurang dari dua batalyon pasukan infanteri dikirim ke Bangka untuk menumpasnya, sedikitnya 5 kapal perang uap canggih, memutus hubungan Amir dengan sekutu kuatnya, batin-batin orang Laut dan orang Lingga serta Lanun.

——————-

IAPUN dikhianati, dikejar, dikepung dan kepalanya dihargai dengan nilai fantastis: 1000 dolar perak Spanyol (Sp. matten), Ia ditangkap dan dibuang tanpa disidang secara estafet dari Bakem-Kelabat-Mentok-Batavia-Surabaya dan akhirnya ke Kupang pulau Timor. Peristiwa sejarah besar (great historical event) pemberontakan Amir adalah drama perjuangan yang patut ditulis dalam goresan tinta emas Sejarah Nasional.

Kenyataan kekalahan yang sangat pahit diderita militer Belanda, dan ini sangat memalukan, diakui sendiri oleh W.A. van Rees, seorang petinggi militer Belanda, dalam buku yang ditulisnya: Wachia, Taykong en Amir, Rotterdam: H.Nijgh,1859: “Pasukan-pasukan yang didatangkan itu berturut-turut kembali ke Jawa. Mereka tidak dapat berbangga pada perwira-perwira perang yang gemilang, pada kemenangan yang diperoleh dalam asap mesiu dan genangan darah; mereka hanya menunjuk pada wajah-wajah mereka yang lesu, tak sehat pada anggota-anggota badan mereka yang kurus, pada tempat-tempat yang kosong dalam barisan mereka dan pada rumah sakit Mentok yang penuh” (Bakar, 1969:54). Residen Bangkapun bersurat kepada Gubernur Jenderal, ditulis di Belinju pada tanggal 26-1-1851/ XIV-A (ANRI:BL: 25-3-1851 Nomor 13 hal.3): …” bahwa pemberontak Amir banyak punya kepentingan besar, dan bilamana tak tepat waktu ambil tindakan keras diubah (tindakan militer), pemerintah Bangka masih bertahun lamanya dengan kesulitan yang sangat itu, akan mendapat kesulitan”. Amir memang memiliki kepentingan dan cita-cita besar, eschatologi perjuangannya adalah membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Sang Residen Belanda F. van Olden pun berkeluh kesah dalam bukunya De muiterij van Amir, dan mengkambinghitamkan “alam”, dikatakan van Olden: betapa sulitnya medan perang di pulau Bangka yang terdiri dari lembah, sungai, bukit, rawa-rawa, padang ilalang dan hutan belantara yang sulit ditembus sehingga menyulitkan upaya penangkapan Depati Amir. Sungguh suatu pembelaan diri, atas ketidakmampuan menghadapi “Perang Gerilya Amir”.

W.A. van Rees, selanjutnya membuat laporan sebagaimana dikutip Heidhues (2008;94): “Ia, (Amir melalui pemberontakannya) adalah penyebab…dari perbaikan sosial bagi penduduk Bangka, yang dalam Lima puluh tahun (sic) di bawah kekuasaan kita tidak membuat kemajuan peradaban”. Satu pengakuan, bahwa Belanda tidak sama sekali memperhatikan penduduk negeri jajahannya, meminjam istilah Bung Karno: “Penjajahan adalah penghisapan manusia atas manusia (exsploitatition de l’homme par l’homme). Amir, seorang pejuang tangguh dari negeri terjajah justru yang menjungkirbalikkan perubahan peradaban Bangka dan tampil sebagai “man make history” (orang yang membuat sejarah). Perubahan peradaban Bangka dapat dikenali dan dirasakan dikemudian hari setelah beberapa dekade usainya peperangan.

Komentar

BERITA LAINNYA