oleh

Pengaruh Perang Amir (Bagian Keempat)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarahwan Bangka Belitung —
PEMBERONTAKAN Amir kepada Pemerintah Kolonial Belanda menyebabkan dirinya dihukum buang tanpa proses verbal, keluarga dan pengikut utamanya juga dibuang, ada yang dipenjara dan dihukum kerja paksa. Hingga Tahun 1868, pengikut setia Amir masih memberontak. Kharisma Amir begitu besar dan mendalam di hati rakyat dan menggetarkan relung jiwa musuh-musuhnya. Pada usia 70 Tahun, dirinya masih ditakuti dan dianggap berbahaya. Mendengar dirinya akan kembali ke Bangka, keresahanpun melanda para pejabat pemerintah dan musuh-musuhnya. Sampai tarikan nafas terakhirnya, 28 September 1869 status Amir tetap sebagai Orang Buangan.

Tidaklah mengherankan kemudian ada sedikit kebijakan dari Pemerintah Hindia Belanda untuk memperhatikan pulau Bangka. Salahsatu kebijakan yang kemudian mengubah struktur konsentri masyarakat Bangka adalah pembangunan jalan-jalan baru yang diikuti dengan kebijakan memindahkan pemukiman penduduk yang awalnya terkonsentrasi pada daerah-daerah pedalaman hutan ke kiri dan kanan jalan-jalan baru yang dibangun. Pemerintah Belanda memaksa penduduk Bangka yang hidup dari sistem perladangan berpindah, untuk menempati kampung-kampung padat disepanjang jalan utama atau jalan raya.

loading...

Kampung-kampung baru (new villages) ini adalah strategi Belanda, sangat menyerupai Briggs Plan (rencana Briggs) untuk mengatasi situasi sewaktu keadaan darurat di Malaya seabad kemudian (Heidhues, 1992:92). Kebijakan ini merevolusi pola pemukiman tradisional masyarakat Bangka dalam kelompok dengan konsep bubung dan arah mata angin (pemukiman masyarakat yang terdiri atas 10 hingga 40 bubung rumah atau pondok ume).

Konsep 40 bubung rumah sampai saat ini masih dipercayai dan diyakini masyarakat Bangka misalnya untuk mendirikan sholat Jumat sudah wajib dilaksanakan bila telah mencukupi 40 bubung rumah, kemudian apabila dalam satu kampung ada anggota kelompok yang melakukan perbuatan tabu (incase), maka akibat yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut menjadi tanggungan sampai 40 bubung rumah.

Rumah pondok atau pondok ume merupakan karakter hunian yang berakar kuat pada masyarakat pribumi Bangka yang hidup berkampung atau berhimpun dalam konsep 10 hingga 40 bubung rumah. Rumah penduduk pulau Bangka yang disebut pondok ume dibangun dengan arsitektur vernakuler, dibangun dalam pola mancapat searah mata angin. Konsep 40 bubung sangat berakar kuat pada budaya orang Bangka, terutama pada Orang Darat yang bercirikan bentuk bangunan memanjang ke belakang dengan atap pelana (bubung gudang) dengan kanopi (liper), terbuat dari material tumbuhan Rumbia (atep rumbia) dan dinding kulit kayu, lantai terbuat dari kayu (jerejak) yang berbentuk panggung sekitar 50-150 cm, terdiri zona bangunan muka dengan pintu dan jendela di sisi depan dan dapur di bagian belakang yang berdiri di atas tanah dan terdapat tangga kayu berjumlah ganjil (dengan hitungan tangga, tunggu, tinggal) di muka rumah. Bangunan rumah bercirikan di atas sering disebut masyarakat dengan istilah Pangkul.

Komentar

BERITA LAINNYA