oleh

Pengaruh Perang Amir (Bagian Kedua)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarahwan Bangka Belitung —
DEPATI Amir memang seorang pejuang tangguh dan berbahaya. Pemberontakannya terhadap Pemerintah Hindia Belanda menyebabkan Pantai Utara Jawa menjadi tidak aman, kawasan Selat Bangka, selat Karimata dan perairannya dikuasai orang Lingga, sekutunya Amir.

—————-

loading...

KONDISI di daratan lebih parah, seluruh distrik di pulau Bangka bergejolak, 250 Tambang Timah, sumber kekayaan Belanda dihancurkan dan berhenti beroperasi. Sekitar 5.000 pekerja tambangpun menganggur. Tawaran perundingan dari Belanda ditolak. Amir lebih rela leher kepalanya dipotong daripada berunding dengan Belanda. “Senjata makan tuan”, begitu ilustrasinya ketika pemerintah Inggris dan Belanda bermufakat melarang penjualan senjata api di Singapura yang digunakan para pejuang di Bangka untuk melawan mereka, dan pabrik senjata di Eropa terancam bangkrut. Pasukan elit Belandapun dikirim ke Bangka, tidak tanggung-tanggung Kompi Afrikaansche Flank-kompagnie dari Batalyon 12. Pragmen-pragmen sejarah di atas adalah nukilan dari peristiwa sejarah perang besar yang terjadi di Bangka dan Perang Amir (Tahun 1848-1851) merupakan terakhir kalinya militer Belanda berhadapan dengan pribumi Bangka.

Pengaruh perang Amir sangat besar bagi penduduk pulau Bangka. Setelah beberapa dekade usainya perang, kebijakan Pemerintah Hindia Belanda terhadap Bangka mulai diubah. Kebijakan pemerintah yang awalnya hanya mementingkan eksploitasi penambangan timah untuk kepentingan negara dan tidak memperhatikan kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan kerajinan rakyat serta produk hutan karena dianggap tidak menguntungkan dan dapat menghambat produksi Timah, setelah perang Amir mulai diubah. Penduduk pribumi Bangka terutama orang Darat yang kehidupan pencahariannya hanya cukup untuk konsumsi satu hari mulai diubah dan lebih sejahtera dengan kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan kerajinan rakyat serta mencari produk hutan. Sayangnya kebijakan ini tidak menyentuh kehidupan pribumi Bangka orang laut suku Sekak. Karena kehidupan pencaharian suku Sekak dari dulu hingga sekarang tidak diubah yaitu kerja satu hari kemudian untuk dikonsumsi satu hari, berakibat orang-orang Laut suku Sekak saat ini mengalami kemunduran dan masih sedikit tersisa di beberapa tempat di pulau Bangka. Kebanyakan orang Laut pribumi Bangka atau orang-orang Sekak kemudian pindah ke daratan atau menikah dengan orang Darat dan orang Cina.

Tanaman padi yang awalnya hanya ditanam di ladang atau hume secara berpindah oleh orang Darat, sudah mulai diupayakan disejumlah tempat untuk ditanam di sawah. Percobaan pembukaan sawah dilakukan Pemerintah Belanda di distrik Pangkalpinang, berdasarkan Keputusan Pemerintah tanggal 19 Desember 1851, Nomor 26. Untuk keperluan pembukaan sawah telah didatangkan enam garu dari pulau Jawa, enam ekor kerbau dari Keresidenan Palembang, dan didatangkan benih padi berkualitas dari pulau Jawa dan Keresidenan Palembang. Dalam rangka pembukaan sawah Pemerintah Belanda juga membangun pengairan yang tidak hanya diperuntukkan bagi kepentingan proyek pertambangan akan tetapi juga dapat digunakan untuk kepentingan persawahan. Pemerintah juga mengembangkan peternakan terutama untuk membantu pekerjaan di sawah atau bagi tanaman padi basah dan untuk sarana pengangkutan serta untuk mendapatkan susu. Percobaan pembukaan sawah seperti di distrik Pangkalpinang juga dilakukan pemerintah Belanda di daerah Kebon Jati dekat Kota Muntok. Pemerintah juga memberikan berbagai perlengkapan pertanian dan perkebunan kepada penduduk seperti pacul, sabit, kapak dan perlengkapan pertanian lainnya.

Komentar

BERITA LAINNYA