oleh

Pemuda GIPSI Basel Aksi Damai di Kantor Kejari

TOBOALI – Sejumlah pemuda Toboali, Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Bangka Belitung yang tergabung di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Inisiatif Pemuda Sosial Indonesia (GIPSI) menggelar aksi Unjuk rasa (Unras) damai di depan Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Basel, Selasa (12/2/2019) siang, sekitar pukul 14.13 Wib.

Kedatangan sejumlah pemuda yang dikomandoi Rego Aprianto ini dikawal ketat aparat kepolisian gabungan dari Polsek Toboali dan Polres Basel yang dipimpin Kapolsek Toboali, Iptu Yandri C Akip.

Aksi Unras damai yang berlangsung selama 2 menit lebih ini terlihat betul-betul damai dalam menyuarakan aspirasinya dengan memberikan dukungan kepada pihak Kejaksaan untuk menuntaskan perkara kasus Tindak pidana korupsi (Tipikor) anggaran belanja Makanan dan Minuman (Mamin) untuk kegiatan penguatan fungsi kesekretariatan dan administrasi perkantoran, serta fasilitasi kelancaran pelaksanaan tugas Bupati dan Wakil Bupati Bangka Selatan (Basel) tahun 2017.

“Atas izin Allah, kami bisa melangkahkan kaki di Kantor Kejaksaan Negeri Bangka Selatan untuk menanyakan perkembangan kasus Makanan dan Minuman yang diduga melibatkan 2 putri Bangka Selatan, yaitu istri Bupati dan istri Wakil Bupati,” teriak penanggung jawab aksi Unras damai LSM GIPSI Basel, Rego Aprianto dihadapan Kasi Intelijen Kejari Basel, Dody Prihatman Purba.

Rego menegaskan, kedatangan mereka ke Kantor Kejari Bangka Selatan hanya ingin menanyakan sejauh mana keterlibatan istri Bupati (Ekawati Justiar_red) dan istri Wakil Bupati (Elizia Herdavid_red) yang diduga terlibat dalam perkara kasus Tipikor anggaran belanja Mamin tersebut.

“Kami suport Kejari Bangka Selatan untuk menangani kasus ini sampai ke akar-akarnya. Kami siap dibelakang Kejari Bangka Selatan. Kami selalu siap untuk berada dibelakang Kejari Bangka Selatan apapun yang terjadi, kita berantas semua Tindak pidana korupsi yang ada di Bangka Selatan ini,” tegas Rego.

Menanggapi aksi Unras damai sejumlah pemuda yang tergabung di LSM GIPSI tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bangka Selatan, Safrianto Zuriat Putra melalui Kasi Intelijen, Dody Prihatman Purba mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang menyuarakan aspirasinya di Kantor Kejari Basel. Bahkan, Dody pun menganggap hal tersebut sebagai dukungan positif dalam proses penegakan hukum.

“Tadi mau saya tanggapi. Tapi keburu selesai unjuk rasanya. Pada intinya, kami pihak Kejari Bangka Selatan berterima kasih kepada masyarakat yang menyuarakan aspirasinya di Kantor Kejari Bangka Selatan. Kami menganggap hal tersebut sebagai dukungan positif dalam proses penegakan hukum,” kata Dody kepada wartawan, Selasa (12/2).

Namun terkait hal yang ditanyakan oleh para pengunjuk rasa, lanjut Dody terkait hal tersebut belum bisa ditanggapi. Sebab, hal tersebut merupakan materi penyidikan yang belum bisa disampaikan di depan umum.

“Terkait hal yang ditanyakan oleh para pengunjuk rasa, dalam hal ini belum bisa ditanggapi dikarenakan hal tersebut merupakan materi penyidikan yang belum bisa disampaikan di depan umum,” jelas Dody.

Dody menegaskan, semua yang terkait kasus Mamin nantinya akan bisa terbuka secara umum di persidangan.

“Dimana rencananya jika tidak ada halangan mudah-mudahan awal Maret 2019 perkara Mamin akan dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor di Pangkalpinang,” ujar Dody.

Untuk diketahui dalam perkara kasus Tipikor anggaran belanja Mamin ini menjerat tiga orang tersangka utama yakni Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Basel, Suwandi AKS, Kepala Bagian Umum (Kabag Umum), Endang dan Bendahara Umum (Bendum), Yusuf. Bahkan ketiga tersangka kini telah ditahan di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Tuatunu dan Lapas Perempuan Kelas III Pangkalpinang sejak 13 Desember 2018.

Selain itu, dalam perkara ini Kerugian Negara (KN) sebesar Rp 1.683.570.735 dari total anggaran sebesar Rp 3.866.500.000. Kerugian Negara (KN) ini berdasarkan hasil penghitungan dari tim ahli Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Bangka Belitung (Babel).

Indikasi aliran uang yang diduga dikorupsikan oleh ketiga tersangka itu untuk kegiatan yang tidak dianggarkan seperti untuk kegiatan belanja Mamin diluar yang tidak dianggarkan, serta untuk kepentingan pribadi para tersangka.

“Modus operandinya ketiga tersangka melakukan Mark Up harga pembelian makanan dan minuman serta sebagiannya fiktif, membuat laporan pertanggungjawaban fiktif,” tegas Kajari Basel, Safrianto Zuriat Putra.(tom)

Komentar

BERITA LAINNYA