oleh

Pak, Mau Dibawa Kemana Lada ini?

“JANGAN rindu, itu berat. Biar aku saja…”

Oleh: Syahril Sahidir  – CEO Babel Pos Grup —

Loading...

RAKYAT dikumpulkan, diceramahi, dijelaskan program ini program itu, semua mengangguk, semua setuju, semua salut dan semua bagai mendukung. Sebelum pulang, mereka diberi uang saku, diberi beras, diberi mukena, diberi kain sarung, dan sebelumnya diajak memilih ini pada tanggal ini nanti…. Semuanya, yah oke-oke saja….. Wah, ternyata rakyat begitu mudah? Apa iya?

Kondisi demikianlah yang dihadapi para Calon Kepala Daerah setiap Pilkada.

Jadilah akhirnya hitung-hitung finansial yang jadi tolok ukur utama bagi para kandidat yang akan bertarung. Persiapan utamanya bukan nama besar, bukan program unggulan, bukan pula sederet strategi. Tapi justru hitung-hitungan finansial yang akan disebar, mulai dari kalender, beras, dan segala bentuk ‘tanda cinta’ lainnya.

Dan, begitu Pilkada usai dan kalah, maka yang dihitung bukan kalah adu program, bukan pula kalah strategi, tapi kekalahan itu dianggap karena finansial yang disebar kurang banyak dari kandidat yang menang. Jadilah akhirnya kekalahan itu disertai dengan pengakuan kalah dalam finansial. Tak pernah ada pengakuan kekalahan karena memang kandidat yang lain jauh lebih baik…..

Lagi-lagi mengukur hati rakyat dengan finansial. Begitu materialistiskah rakyat negeri ini seolah dalam setiap Pilkada mengukur suara rakyat dengan kesiapan memberi mereka apa? Apakah memang sebegitu parah? Atau, perilaku rakyat itu sesungguhnya adalah cerminan dari karena sudah tak percaya lagi dengan siapapun yang bakal jadi pimpinan nantinya?

**

ITU dulu, dan sekarang masih jugalah. Namun tak separah dulu. Jadi yang sekarang? Mungkin lebih parah?
Pesan bijak dari A France, lebih baik mengerti sedikit daripada salah mengerti. Sebenarnya, dalam setiap menyalurkan aspirasi dan suaranya, rakyat tetap menggunakan hati nurani. Barang atau uang yang diterima justru menjadi bahan pertimbangan dan logika kemana suara akan diberikan. Ingatlah, rakyat ketika menuju ke Tempat Pemungutan suara (TPS), tentu sudah ada tekad dan keinginan untuk memilih siapa?

Saat inilah beras, kain sarung, kaos, mukena, atau uang terngiang kembali. Tapi, akal sehat dan nurani saat perenungan tetap murni. Kadang semua bentuk finansial yang didapat tadinya dikalahkan oleh akal sehat dan nurani… Hanya saja, mampukah kandidat yang non finansial merasuk ke hati nurani rakyat itu? Ini pertanyaan yang susah untuk dijawab?

Komentar

BERITA LAINNYA