oleh

Molen, Erzaldi, Rakyat & Partai

Apakah mungkin wisata daerah ini akan terbangun dengan baik jika masyarakat Ibukotanya Pangkalpinang ketar-ketir cemas ketika musim hujan karena takut banjir besar terulang lagi? Apakah mungkin orang mengatakan bahwa Babel itu indah dan elok, sementara pasar Ibukota Provinsinya masih semrawut?

Sebagai pintu gerbang, Pangkalpinang memang harus tampil elok, seelok makna namanya, Pangkalpinang sebagai Pangkal Kemenangan.

loading...

Lalu, apakah Molen perlu program yang muluk-muluk?
Jawabnya tidak!

Ada 3 hal yang cukup sentral yang harus menjadi perhatian Molen. Yaitu Pasar Pagi –yang sekarang memang menjadi perhatiannya–, Pasar Trem atau Pasar Pembangunan, dan drainase kota –meski sudah banyak dibenahi–.

Jika 3 hal ini berhasil dituntaskan –dan berat jika hanya dalam 5 tahun–, maka wajah kota dan kecemasan warga setidaknya akan terselesaikan? Tapi ini tentu harus mendapat support penuh dari Provinsi dalam hal ini Gubernur Erzaldi, baik dari segi finansial maupun keterkaitan wilayah.

Contoh sederhana, persoalan parkir Pasar Pagi saja, jika hanya mengandalkan lokasi yang ada, terasa tak mungkin. Termasuk juga jika berharap Pemerintah membeli lahan, juga tetap tak cukup rada-radanya.

Di sisi lain, ada lahan kosong milik pribadi, ada juga halaman cukup luas milik tempat ibadah yang terasa belum termanfaatkan secara maksimal –tidak diatur rapi, padahal lokasi masih memungkinkan khusus kendaraan roda 2 saja– Kenapa tidak lahan kosong milik pribadi itu misalnya diajak kerjasama dengan pemerintah yang soal bagaimana pembagiannya disesuaikan dengan aturan dan kesepakatan? Lalu, kenapa tidak misalnya lahan milik rumah ibadah itu dimanfaatkan untuk lahan parkir secara maksimal pada jam-jam sibuk pasar yang hasilnya tentu elok untuk rumah ibadah itu sendiri? Jika ini yang terjadi, maka badan jalan bisa dimanfaatkan hanya nuntuk kendaraan roda 4 saja?

Komentar

BERITA LAINNYA