oleh

Mereka Musuh Namun Saling Rindu

Mendengar hinaan itu, Rhoma pun tak tinggal diam. Ia murka dan membalas pernyataan Benny dengan menyebut musik rock sebagai “terompet setan.”

Eskalasi konflik kemudian meningkat hingga adu fisik. Kritikus musik almarhum Denny Sakrie menjelaskan, pada masa itu pendukung rock dan dangdut kerap terlibat tawuran dan jumlah korban luka tak terhitung jumlahnya. Selama bertahun-tahun, mereka saling hantam atas nama fanatisme musik.

Loading...

loading...

Kekerasan ini dialami sendiri oleh sang Raja Dangdut. Dalam konferensi Archipelago Festival yang diselenggarakan di Soehana Hall pada 13 Oktober 2018, Rhoma menceritakan bahwa suatu hari ia sedang syuting film di Tegalega, Bandung, yang tak lain adalah basis penggemar Giant Step.

Alih-alih disambut hangat, Rhoma justru disambut hujan batu oleh para penggemar Giant Step. Pengalaman serupa juga ia alami kala manggung bersama Soneta di Banyuwangi. Di sana, Rhoma bahkan sampai terlibat adu fisik.

“Itu [keributan] terjadi di mana-mana. Ada juga yang panggung dangdut dikencingin oleh penggemar musik rock, penggemar musik dangdut membalas dengan setrum,” katanya.

Dalam wawancaranya bersama Raka Ibrahim, yang kemudian diterbitkan Jurnal Ruang dengan judul “Dangdut, Soeharto, dan Kolonialisme Gaya Baru” (2017), Weintraub menjelaskan sebetulnya penggemar musik dangdut saat itu tak peduli dengan cercaan yang ditujukan kepada keyakinan mereka.

Komentar

BERITA LAINNYA