oleh

Memperkuat Kemelayuan (Bagian Ketiga)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung – Penerima Anugerah Kebudayaan —
DALAM konsep Melayu Bangka tentang pemimpin, tidak dikenal istilah “Quran buruk” (tidak dapat dibaca, tidak boleh dibuang).

————–

loading...

PEMIMPIN dalam konteks kemelayuan Bangka, dihargai dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan seperti kata pepatah; “pemimpin itu dimajukan selangkah, dinaikkan seranting, di samping menintin dan di belakang dak numit”.

Pemimpin akan terus dihargai, semakin banyak makan asam garam, semakin besar “tuah dan sembah”, semakin didengarkan “petatah dan petuah”, karena takut akan “tulah” (Pemimpin alim pemimpin disembah/dihormati, pemimpin lalim pemimpin disanggah).

Jati diri kemelayuan dapat juga dibentuk dengan melestarikan budaya dan tradisi. Pelestarian mempunyai makna perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan. Pembangunan kebudayaan sangat diperlukan terutama dalam kondisi bangsa yang sedang rapuh, mengalami keretakan dan hampir kehilangan identitas atau jati diri.

Generasi mudanya, hampir kehilangan kebanggaan sebagai bangsa karena akibat sampingan dari pembangunan, pertumbuhan kota-kota yang cenderung mengalami kesesakan, pola pikir masyarakat yang begitu cepat berubah ke arah materialistik dan hedonistik, konsep dan pelaksanaan pembangunan yang keliru serta masuknya dalam jebakan global dari globalisasi.

Komentar

BERITA LAINNYA