oleh

Melayu Bangka Dukung Perjuangan GUM

*Fadilah: Pantung Bunda Maria di Rebo Lukai Islam dan Masuk Kawasan Hutan Lindung
BANGKA – Tokoh agama sekaligus perwakilan masyarakat Kabupaten Bangka khususnya, Ustad Fadilah Sabri mengaku meminta kepada pemerintah khususnya Bupati kabupaten Bangka beserta jajaran terkait lainnya untuk tegas dalam menyikapi pro kontra pembangunan patung bunda maria yang berlokasi di sekitaran wilayah pantai Rebo Sungailiat.

Padahal pro dan kontra inipun sebenarnya kata Ustad Fadilah tidak perlu terjadi jika saja para pihak yang membangun patung tersebut memahami karakteristik sosial budaya masyarakat orang melayu Bangka. Oleh karena itu agar jangan sampai menimbulkan keresahan dan luka dihati masyarakat muslim akibat permasalahan yang sebenarnya cukup sensitif ini.

loading...

“Lagipula yang dibangun tersebut kata Fadilah bukan merupakan tempat ibadah, sebab jika ingin membangun rumah ibadah maka tentu ada aturannya, tetapi nyatanya patung tersebut dibangun sebagai tempat wisata.

Jadi pertanyaan besarnya adalah mengapa tempat wisata yang malah bernuasa agama lain justeru dibangun di lokasi tersebut, kecuali kalau memang sebelumnya ada bukti sejarahnya sehingga sampai harus dibangunnya patung tersebut.

Padahal ini jelas tidak bisa disamakan dengan Candi Borobudur yang bernuansa hindu budha, ini karena memang candi tersebut telah ditemukan sejak berabad-abad silam dan itupun memang ada bukti otentik sejarah berkembangnya masyarakat Hindu budha pada saat itu,” sebut Fadilah.

Ia meminta semua pihak untuk memperhatikan juga masalah keragaman masyarakat Bangka Belitung dan kemajukan serta sosiologis masyarakat Bangka yang melayu yang berarti juga adalah umat Islam. Apalagi dengan membangun patung seperti itu sehingga seakan-akan masyarakat Bangka dan pulau ini mau dijadikan pulau berhala,tentu masyarakat muslim akan menolak dan tidak mau seperti itu.

“Kami juga meminta pak Mulkan (bupati) yang terhormat kalau memang izinnya sudah terbit nanti maka di cabut saja, saya rasa tidak akan masalah daripada nanti menunai konflik dan keresahan masyarakat, karena ini adalah tanggungjawab pak bupati juga sebagai seorang ulil amri (pemimpin) bagi masyarakat dan juga umat Islam adalah tidak membuat resah orang Islam dan bahkan akan bertanggungjawab kepada Allah SWT di Yaumil Akhir nanti.

Dan saya juga belum tau apakah izinnya bagi mereka yang bangun ini langsung pakai online atau bagaimana, tetapi yakin pastinya ada amdal, ada kajian-kajian, sebab itu tolong sekali lagi jangan gunakan kebebasan itu melampaui ambangnya, karena orang Islam terlebih di Bangka selama ini tidak pernah sewenang-sewenang dan justeru terkenal sangat toleransi, dan kalau masih juga nyebut kita tidak toleran maka pasti mereka yang salah dan sangat keliru besar, anda (pengusaha pembangunan patung) itu mau membuat sesuatu yang tidak pas itu kan tidak baik, lagipula itukan adalah jelas kawasan hutan lindung,” tambah Fadilah yang juga merupakan Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Provinsi Bangka Belitung ini.

Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) ini juga meminta kepada masyarakat melayu dan umat Islam di kabupaten Bangka, untuk tidak anarkis dalam menyikapi hal ini dan yang kedua pemerintah daerah khususnya kabupaten Bangka juga harus tanggap, karena kebijakan daerah ini tergantung kepada pemimpin yang memiliki kompetensi termasuk MUI, ormas-ormas, semua ini sangat penting jangan sampai timbul seakan-akan bahwa kalau sudah mampu dan modal besar kita bisa membangun apapun karena ini jelas salah.

Dosen yang masih aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi di Bangka tersebut mengaku mendukung langkah yang diambil oleh anak-anak muda yang bergabung dalam Gerakan Orang Melayu atau GUM , karena memang orang melayu Islam itu harus bangkit, karena umat Islam selama ini sudah lama tidur. Orang muda melayu harus bersemangat dan teguh berjuang tetapi bukan berati untuk menghancurkan orang namun bangkit untuk berkemajuan , berfikir maju dan bergerak maju, tidak menyinggung, tidak menyikut orang lain.

“Dari dulu Babel ini terkenal aman, sangat toleran dan karena itu jangan diganggu. Dalam permasalahan ini sebenarnya kalau mereka mau bangun di Timor Leste atau daerah yang memang mayoritas banyak non muslim, maka tidak akan ada yang mempermasalahan ini, tapi ini Bangka dan mayoritasnya melayu, sehingga ini tentu buat saya sebagai sebuah tamparan bagi muka orang melayu yang artinya juga umat Islam. Dan kami sebagai orang Islam tidak akan pernah setuju dan rela diperlakukan seperti ini,” desak Fadilah.(lya)

Komentar

BERITA LAINNYA