oleh

Mantak

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku / Pemerhati Sosial

KARENA ilmu, pengalaman, wawasan dan iman yang “AGIK MANTAK”, maka bermunculan manusia-manusia berperilaku “MANTAK IGAK” dan berakhir dengan “MATI MANTAK” akibatnya “MANTAK MALAI”. Bayangkan kalau perilaku itu adalah sekumpulan orang atau Ormas?!

loading...

MANTAK, yang berarti mentah. Umumnya digunakan untuk menyebut buah-buahan yang atau jenis makanan yang belum matang. Tapi dalam budaya tutur masyarakat Bangka, ungkapan “mantak” atau mentah itu kerapkali diibarat kepada manusia yang belum dewasa secara usia atau sudah berusia tua namun belum bersikap matang atau tidak bijak atau berperilaku tidak sesuai dengan umurnya.

Bahasa tutur masyarakat Bangka yang memang dikenal nyelekit dan bermakna ganda dalam bertutur menarik hati saya untuk merangkai 4 kalimat “mantak” seperti judul diatas. Apalagi saya yang notabene berasal dari kampung dan bangga dengan budaya tutur masyarakat kampung yang menurut saya sangat menarik untuk dikaji dan menjadi bahan renungan dalam kehidupan sosial seperti sekarang ini serta menjadikannya sebagai catatan ringan (TARING) di harian Babel Pos ini.

“Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu adalah pilihan” begitu kurang lebih kalimat yang pernah saya baca. Artinya tidak semua orang yang mampu berperilaku dewasa sesuai dengan usia dan status sosialnya. Karena dalam kehidupan sosial, sering kita saksikan perilaku yang mengangkangi usia dan status sosialnya. Inilah yang seringkali oleh orang Bangka dengan perilaku “mantak igak” akibat tindakan yang “agik mantak”.

Demokrasi Mantak
DI TAHUN politik seperti sekarang ini, kita sering menyaksikan baik langsung maupun melalui media, perilaku “agik mantak” alias sangat tidak bijaksana menghadapi demokrasi. Kepada seorang kawan, saya katakana: “Di tahun politik seperti sekarang ini, akan banyak bermunculan tukang kompor dan tukang gas, ketimbang tukang lem”.

Komentar

BERITA LAINNYA