oleh

Maaf Tuhan, Aku Lupa…

Terkadang Tuhan
datang mengetuk…
tapi kita tak buka pintu….
Oleh: Syahril Sahidir
General Manager Babel Pos —

JANJI aksi 212 super damai, terbukti sudah.  Tak ada rumput yang rusak, tak ada kayu yang patah.  Jutaan umat berkumpul berzikir dan berdoa untuk bangsa, berharap keadilan benar-benar ditegakkan di negeri ini.  Bahkan, karena ‘super damai’ itu pula, Presiden RI Joko Widodo bersama para petinggi negeri ini dengan tegas di menit-menit akhir memutuskan untuk hadir Shalat Jumat bersama umat.  Allahu Akbar!

loading...

Media asing –terutama negara-negara Islam– menyoroti aksi itu demikian luar biasa.  Bahkan ada koran berbahasa Arab yang nyaris semua halaman mukanya berisikan pemberitaan peristiwa yang sangat-sangat langka itu.  Penulis sendiri selaku salah satu pimpinan media yang ada di daerah ini merasa malu, karena merasa porsi yang diberikan koran yang penulis pimpin jauh lebih sedikit dari media luar negeri itu.

Itulah Islam.  Saat itu, tak ada yang garis keras, tak ada yang garis lembut, tak ada pula yang garis menengah.  Tak ada istilah kelompok radikal, tak ada yang moderat.  Karena ketika Shalat Jumat, semuanya sama.  Sujudnya sama, rukuknya sama, berdirinya sama, kiblatnya sama, azannya sama, Surat Alfatiha-nya sama, bahasanya juga sama, semuanya sama, tak ada yang berbeda.

Islam yang ramah tak perlu lagi diperkenalkan, karena Umat Islam yang ada di Indonesia sudah membuktikannya di jagad ini.
****
MELIHAT aksi 212, penulis jadi ingat apa yang dikemukakan Dai Kondang Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym.  ”Tidak ada yang bisa dan mampu mengumpulkan umat demikian besar dan banyak, tidak ada partai apapun atau partai manapun yang sanggup mengumpulkan massa demikian besar.  Massa berkumpul dengan biaya sendiri, dengan keinginan sendiri, datang sendiri, karena panggilan hati….”

Komentar

BERITA LAINNYA