oleh

Kekuasaan Halalan Thayyiban

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya —

MAKNA “halalan thayyiban” bukan hanya diperuntukan pada makanan, tapi juga dalam pernikahan, pergaulan hingga cara meraih kekuasaan dan saat berkuasa.

loading...

—————

SECARA umum, Harta dan Tahta adalah 2 hal yang begitu menggoda kehidupan manusia. Tidak kaum perempuan tidak kaum pria, sepertinya 2 hal tersebut seringkali menjadi ukuran kesuksesan seseorang.

Seorang perantauan akan dilihat sukses atau tidak, seringkali diukur dari 2 hal tersebut. Begitupula seorang sarjana atau pegawai dalam pandangan masyarakat kita. Sehingga kreativitas, kecerdasan, pemahaman dan pengamalan agama seringkali terabaikan karena pandangan kesuksesan adalah harta dan tahta. Dari pandangan itu, akhirnya seringkali kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekuasaan (tahta).

Harta yang didapatkan dengan cara yang halal akan memberikan manfaat dan keberkahan kepada orang lain dan keturunan yang ditinggalkan. Berapa banyak orang yang memiliki kekayaan, namun pada akhirnya kekayaan itu tidak banyak memberikan manfaat kecuali kemegahan dan kemewahan duniawi yang pada akhirnya menjerat kehidupannya serta keluarga yang ditinggalkan.

Berapa banyak pula orang yang tidak memiliki kekayaan, namun selalu cukup dan tidak menganggap bahwa apa yang dimiliki adalah milik sendiri. Kekayaan yang dimiliki hanya dijadikan alat untuk berbuat baik, memperbanyak sedekah dan memberikan manfaat bagi orang lain. Sehingga kala bekerja yang dicari bukanlah gaji, tapi adalah jalur mendapat rezeki. Karena gaji dan rezeki sebetulnya memiliki perbedaan yang sangat jauh. Hanya saja seringkali keduanya dianggap sama.

Komentar

BERITA LAINNYA