oleh

Kasus Villa Pit Jun, Riwayatmu Hingga Kini

KASUS Villa Pit Jun sebenarnya sudah lama mencuat, namun hingga kini belum bergulir ke pengadilan. Kasus ini bermula pada tanggal 19 Oktober 2017, Kementrian Lingkunga Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Bangka Belitung (Babel) menemui adanya perambahan hutan lindung di kawasan Pejem, Belinyu, Bangka.

——————

Loading...

loading...

TAK cuma menemukan bangunan viLla, penyidik juga mendapati pohon ditebang dan arealnya dibuka menjadi perkebunan buah-buahan yang diantaranya tanaman mangga, kelengkeng, jeruk dan kelapa, dengan rentang usia di kisaran satu tahun.

Adapun koordinat berada di x.0150564 y.10588634, dan itu masuk di dalam kawasan hutan lindung Pejem, desa Gunung Pelawan, Belinyu kabupaten Bangka.

Oknum dewan Pit Jun diindikasikan melanggar pasal 50 ayat (3) huruf e undang-undang RI nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Dimana setiap orang menebang pohon, atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang dapat dikenakan sangksi pidana pasal 78 ayat 5, dengan hukuman maksimal 5 tahun dan atau dengan maksimal 5 miliar. Selain itu, Pit Jun juga diduga melakukan perkebunan tanpa ijin menteri di dalam kawasan hutan yang diindikasikan melanggar pasal 92 ayat (1) huruf b UU RI no. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, dengan ancaman sanksi pidana minimal 3 tahun maksimal 10 tahun dan denda minimal Rp 1,5 miliar, maksimal Rp 5 miliar.

Seiring dengan perjalanan waktu yang sudah lebih dari 1 tahun, ternyata kasus itu tidak kunjung P21 di Kejaksaan. Pihak penyidik Gakkum KLHK Dodi Kurniawan, mengaku pihaknya sudah berupaya memenuhi segala petunjuk Kejaksaan. “Tetapi ya seperti inilah (sampai setahun tak P21.red). Kita berharap kasus tersebut tetap lanjut demi rasa keadilan, jangan sampai karena itu melibatkan oknum tertentu terkesan ada tebang pilih,” sesalnya.

Komentar

BERITA LAINNYA