Taring

Penidir

Ahmadi Sofyan2 - Penidir

Oleh: AHMADI SOFYAN - Penulis Buku/Pemerhati Sosial --

SALAH satu penyebab repotnya mengatur negeri ini, karena kekuasaan sering menciptakan suasana politik cengeng dengan melahirkan generasi bermental “penidir”. Akhirnya berpuluh-puluh tahuan kita hidup pada era penidir, rakyat penidir, pemerintah penidir dan aparat penidir.

------------

PENIDIR, setelah lama tak terdengar, beberapa hari yang lalu, tiba-tiba kalimat itu justru saya dengar langsung dari mulut orang nomor 1 di Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan. Malam hari, di ruang kerja Kantor Gubernur, saya kebetulan sedang ngobrol santai dengan beliau, tiba-tiba kepada salah satu staff-nya, Gubernur menyebut kalimat “penidir”, yang membuat saya tertawa karena sudah lama tak mendengar kalimat tersebut.

Dulu, semasa kecil di kampung (Kemuja), kalimat itu menjadi kalimat yang tak asing lagi. Tapi seiring perjalanan zaman, banyak sekali bahasa-bahasa lokal yang tergerus, apalagi anak-anak muda masa kini salah kaprah karena merasa kampungan jika berdialog dengan menggunakan bahasa daerah (kampung).

Penidir, dalam bahasa lisan masyarakat kampung di Pulau Bangka bermakna anak-anak yang badan (raga) yang gampang sakit, kurang memiliki kekebalan tubuh, berwajah pucat dan perkembangan tubuhnya yang lambat. Tapi bagi saya pribadi, kalimat “penidir” ini memiliki filosofi atau makna tersendiri jika dikaitkan dengan kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara. Jika “penidir” dimaknai gampang sakit, maka bisa dikatakan negeri kita ini adalah negeri penidir yang sangat mudah dirasuki berbagai macam kuman penyakit, baik dari dalam tubuh sendiri maupun dari luar.

Laman: 1 2 3 4

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top