oleh

Hukum Kewajiban Puasa Untuk Para Pekerja Berat

Oleh: Ali Muttaqien
PADA dasarnya tidak ada nash Alquran dan hadis Nabi Saw yang menjelaskan secara khusus mengenai hukum puasa bagi pekerja berat, seperti kuli bangunan, buruh tani atau pemain sepak bola prosfesional. Di dalam Alquran, Allah hanya memberi keringanan boleh tidak berpuasa bagi orang sakit, musafir dan orang tidak mampu.

Meski demikian, ketika ada suatu masalah yang tidak disebutkan dalam Alquran dan hadis Nabi Saw secara khusus, para ulama menganalogikan dengan masalah yang sudah disebutkan dalam Alquran dan hadis Nabi Saw. Dalam Mazhab Syafii, hal ini disebut dengan qiyas. Melalui qiyas ini, imam al-Nawawi dalam kitabnya Nihataz Zain, menganalogikan hukum puasa pekerja keras dengan orang sakit.

loading...

“Ada tiga keadaan orang sakit. Pertama, ketika penyakit diprediksi kritis sehingga membolehkan tayammum, maka penderita makruh untuk berpuasa. Ia diperbolehkan tidak berpuasa. Kedua, jika penyakit kritis itu benar-benar terjadi, atau kuat diduga kritis, atau kondisi kritisnya dapat menyebabkannya kehilangan nyawa atau menyebabkan disfungsi salah satu organ tubuhnya, maka penderita haram berpuasa. Ia wajib membatalkan puasanya. Ketiga, kalau sakit ringan yang sekiranya tidak sampai keadaan kritis yang membolehkan tayammum, penderita haram membatalkan puasanya dan tentu wajib berpuasa sejauh ia tidak khawatir penyakitnya bertambah parah. Sama status hukumnya dengan penderita sakit adalah buruh tani, petani tambak garam, buruh kasar, dan orang-orang dengan profesi seperti mereka.”

“Imam al-Adzhra’i berfatwa bahwa wajib bagi para petani dan sesamanya, yaitu para pekerja berat untuk melaksanakan niat di setiap malam, kemudian bila di siang hari saat berpuasa mengalami kesulitan yang berat, boleh tidak puasa. Namun apabila tidak mengalami kesulitan, maka wajib puasa.”

Komentar

BERITA LAINNYA