oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (Bagian Ketujuh)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Kebudayaan

BERLADANG padi atau beume bagi masyarakat Bangka dan Belitung memiliki peran sentral dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Loading...

—————–

MASA tanam, masa pertumbuhan padi dan saat panen padi menjadi wahana penting dalam berbagai aspek interaksi sosial dan budaya masyarakat. Setiap keluarga batih biasanya melaksanakan perladangan padi dengan beume berpindah pada lahan seluas antara 8-16 petak (sekitar 2 hingga 4 hektar) pada saat Satu kali musim tanam. Pada masa lalu, Satu keluarga batih akan kembali mengolah bekas lahan umenya, setelah berpindah kurang lebih sekitar Sepuluh kali (10 Tahun).

Dalam sistem perladangan berpindah, rata-rata setiap keluarga batih membutuhkan cadangan lahan hutan seluas 20 sampai 40 hektar. Kelestarian lingkungan hutan akan tetap terjaga dengan sistem berladang ume berpindah karena setelah berpindah sekitar 10 kali atau selama 10 Tahun, rumah tangga keluarga batih akan kembali lagi ke lahan awal pertama yang telah digarap karena telah menjadi hutan sekunder dengan ketentuan, bahwa lahannya tidak digunakan untuk lokasi kubak/kubok atau dijadikan kelekak.

Pada saat lahan bekas ladang ume telah menjadi hutan sekunder, pembuka lahan pertama masih memiliki hak terhadap hasil yang terdapat pada lahan, misalnya pada lahan yang sudah menjadi hutan tumbuh jamur atau kulat, menghasilkan madu, atau ada kelompok orang berburu di lahan memperoleh hewan buruan, maka pemilik lahan pertama akan memperoleh bagian.

Komentar

BERITA LAINNYA