oleh

Hilangnya Keceriaan “Budak Kinek”

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku / Pemerhati Sosial —

BUDAK KINEK (Anak-Anak sekarang) seperti kehilangan masa kanak-kanaknya. Kehilangan keceriaan dan masa bermain, akibat pengaruh lingkungan keluarga, tuntutan sekolah dan aturan negara.

Loading...

loading...

——————-

BEBERAPA waktu lalu, 4 orang Dosen dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta datang ke kediaman saya gunaa kepentingan wawancara mengenai pandangan saya tentang sekolah dan anak-anak di era modern sekarang ini. Saya pun menjawab apa adanya tanpa teori “langit” seperti kaum akademik. Karena maklumlah, saya hidup, berbicara dan menulis berdasarkan pengalaman “bumi”, bukan dari halaman-halaman buku yang saya baca atau teori yang membumbung ke angkasa.

Ada satu hal yang saya garis bawahi dari pandangan saya terhadap pendidikan, sekolah, lingkungan, negara dan anak-anak, kepada para Dosen, termasuk hal ini juga pernah saya sampaikan beberapa hari lalu saat ngobrol dengan Tokoh Pendidikan kita, Prof. Dr. Bustami Rahman di kediamannya. “Anak-anak zaman dulu hidup dalam keterbatasan fasilitas, namun tidak kehilangan keceriaan sebagai anak-anak. Sedangkan anak-anak zaman sekarang, hidup dalam fasilitas yang tak terbatas, namun mereka menjadi dewasa belum waktunya dan kehilangan masa keceriaan yakni masa bermain sebagai anak-anak”.

Sebagai budak kampong, yang dilahirkan dan dibesarkan ditengah-tengah kehidupan kampung (Kemuja), saya merasakan bagaimana kehidupan sederhana ditengah-tengah keluarga besar, yakni 10 bersaudara. Hidup dalam keterbatasan (jika tidak disebut miskin), pagi menjajakan kue bikinan Mak dari gang ke gang, selanjutnya jika tidak sekolah (masuk sore), harus segera ke kebun karet untuk menyadap batang pohon bergetah putih itu. Hal ini juga dilakukan oleh anak-anak seusia saya, bahkan mereka pun menginap di kebun, kecuali hari Jum’at, barulah pulang kampung. Namun, saya dan kawan-kawan sebaya di kampung tidak kehilangan keceriaan sebagai anak-anak. Hutan, sungai, kebun, sekolah, lapangan dan Masjid adalah tempat kami bermain, mencari makan (buah-buahan dan ikan). Sekolah (baik fisik maupun aktivitasnya) bagi kami anak-anak ternyata bukan hanya wadah belajar, tapi juga aktivitas sosial dan tempat bermain yang sangat asyik.

Komentar

BERITA LAINNYA