oleh

Gara-Gara Jadi Caleg

Kejadian “mengenakan” seperti ini sebetulnya bukan sekali dua kali selama musim Pemilu ini. Ada juga kejadian suatu ketika saya diundang jadi pembicara, tapi beberapa jam sebelum acara, pihak Panitia tiba-tiba menyampaikan, boleh hadir tapi hanya sebagai pendengar dan tak boleh pegang mikropon karena ada desakan dari pihak lain. Lagi-lagi alasannya karena “Ahmadi Sopyan adalah Caleg”. Awalnya ada rasa kaget dan kesel, tapi selanjutnya saya nikmati dan kadang tertawa bersama teman-teman dan dilain sisi saya tulis pengalaman sebagai peserta Pemilu ini untuk menjadi catatan, siapa tahu suatu saat bisa dibukukan dan menjadi bahan diskusi setelah Pemilu.

Demokrasi Cengeng
PEMILU 2019 tinggal dalam hitungan beberapa hari lagi. Semarak warna-warni baliho, spanduk dan stiker menguasai ruas jalan raya. Dalam menghadapi pesta demokrasi pasca reformasi ini, nampaknya salah satu efek negatifnya adalah melahirkan para pemimpin, wakil rakyat dan partai politik bermental cengeng. Lebih parahnya rakyat juga ternyata tak kalah cengeng hampir setiap menghadapi Pilkada, Pemilu bahkan setelahnya. Berbagai permintaan untuk “disuap” dengan oleh-oleh, janji beri suara, bahkan menanyakan berapa perkepala adalah bentuk “cengengisasi demokrasi”.

loading...

Kenapa saya katakan cengeng?
Bukan rahasia umum lagi, bahwa seseorang yang menjadi pemimpin atau wakil rakyat harus memberikan ini dan itu kepada pemilihnya. Mengiming-imingi sesuatu berbentuk materi agar rakyat mau mendukung dan memilih dirinya. Bahkan yang lebih parah adalah menjegal lawan politik dengan berbagai isu dan fitnah yang dibuat agar orang lain tidak memilih sang lawan. Apa ini bukan mental cengeng? Jadi, selama mental-mental cengeng masih bercokol di negeri ini, bahkan oleh pemimpin negeri, maka jangan heran kita menjadi bangsa besar bermental kurcaci, badan gajah mental kelinci!

Komentar

BERITA LAINNYA