oleh

Filosofi Sahur

Oleh:Ahmadi Sopyan – Penulis Buku/Pemerhati Sosial

RAMADHAN tahun ini, garis pemisah antara aku dan kamu begitu tebal. Jurangnya begitu dalam dan luas. Propaganda politik memang cenderung hitam-putih dan membelah. Politik bisa membuat kebenaran dipalsukan dan kepalsuan dibenarkan.

loading...

—————-

SAHUR, sejatinya adalah waktu yang memiliki keutamaan dan kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT dimana permohonan atau do’a setiap manusia akan dikabulkan. Seandainya tidak dalam bulan Ramadhan, maka sangat jarang sekali kita menikmati waktu-waktu sahur. Oleh karenanya, bangun diwaktu Sahur sesungguhnya memberikan kesempatan dan pelajaran kepada kita bahwa ada nilai-nilai filosofi tinggi pada kehidupan, baik pribadi maupun keumatan.

Makan di waktu sahur juga membedakan puasanya umat Muslim dengan puasanya umat-umat sebelum Islam datang. Karena bisa jadi, puasa umat sebelumnya tak mengenal istilah Makan Sahur.

Makan di waktu Sahur untuk berpuasa sarat dengan nilai-nilai sejarah dan kebaikan agama (Islam). Sehingga kedudukan Sahur bukan semata aktivitas makan tetapi juga berdo’a karena waktu Sahur sangatlah mustajabah. Waktu Sahur tidak sesederhana seperti yang kita pikirkan selama ini, tapi ia memiliki nilai dan filosofi keumatan dan kejayaan.

Sahur dan Kebangkitan Umat
SAHUR adalah makan dan minum di waktu “sahar” (sepertiga malam terakhir sebelum Subuh). Adapun kata kerja dari makan atau minum istilahnya adalah “tasahhur”. Oleh karenanya jika kita membahasa masalah Sahur, maka disana ada waktu, pekerjaan dan makan minum.

Komentar

BERITA LAINNYA