oleh

“Di Indonesia Tidak Ada yang Tahu Kecuali Saya!”

Hal itu bukan tanpa alasan kata Erzaldi di acara yang digagas oleh Mikron Antariksa, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Babel itu. Karena kata dia, ia dan tim-nya saja tidak pernah bisa mendapat ilmu dari petani lada di Vietnam, saat ia dan tim-nya belajar ke sana.

Bahkan, butuh 3 bulan bagi mereka untuk bisa mendekati petani lada di Vietnam. Jengkelnya lagi, setelah 3 bulan itu, tidak sebutir ilmupun diberikan orang Vietnam.

Jadi kami di sanin belajar surang. Gale-gale surang kamilah. Dikde aben urang Vietnam merik ilmu. Ya ikak nek tau. Jadi, jangen sebasing merik ilmu kek urang negara asing. Kita luk e urang Vietnam belajar ke kita. Kinik e kita yang belajar ke sanin. Sahang sanin malah lebih mahal dari punya kita,” urai Gubernur Babel.

Penegasan itu semata-mata kata Erzaldi untuk memberikan rasa percaya diri kembali kepada petani lada bahwa, saat ini pemerintah provinsi terus berusaha keras untuk meningkatkan lagi kepercayaan publik dunia kepada lada dari Babel.

Dewasa ini kata dia, lada Babel kurang mendapat kepercayaan konsumen di tingkat internasional diakibatkan lada Babel telah dioplos.

Jadi, sahang kita ne, di luar sanin dicampur kek kaceng ijau. Selama ne dikde yang tau. Siapa yang tau e? Ne ha, Erzaldi ne, Gubernur Babel ne sikok-sikok e di Indonesia yang akhir e tau bahwa di luar sanin sahang kita dioplos. Selama ne dek sikok aben urang Indonesia yang tau. Dek sikok aben!,” tegasnya.

Komentar

BERITA LAINNYA