oleh

Demokrasi Sambel Belacin

Oleh: AHMADI SOPYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya

DEMOKRASI dalam kekuasaan itu dinikmati sebagaimana melahap sambel belacin. Santai, fokus dan dalam suasana ceria. Terpenting adalah “pacak” menahan diri. Sekali coba “ase agik nek”, padahal “mulot lah kepedesan”.

loading...

————-

SEMAKIN mendekati hari pemilihan, nampaknya suhu politik di Indonesia kian panas (padahal sekarang musim hujan). Debat politik Presiden melawan Calon Presiden yang disiarkan langsung stasiun televisi, dilanjutkan dengan debat politik oleh masing-masing pendukung di media sosial. Bahkan di group-group WA (WhatsApp) pun perdebatan sengit yang berujung pada pertengkaran tak terelakkan.
Tak sedikit yang tak kuat terpaksa left (keluar group) mungkin dengan perasaan kesal, dendam dan “gerigit ati”.

Saling nge-bully, menghina, caci maki, fitnah dan saling menghujat nampaknya semakin mengikis persatuan dan kesatuan sesame anak bangsa. Ibu Pertiwi meratap sedih, malu dan “gerigit ati” melihat anak-anaknya yang kian tak tahu malu. Berperang antar saudara sendiri hanya karena fanatisme buta dan syahwat kekuasaan.

Yang lebih parah, para penjilat kekuasan kadangkala mengenyampingkan akal sehat. Posisi sebuah lembaga yang harusnya netral, bertindak tak adil dan cenderung binal. Posisi alat negara berubah menjadi alat penguasa. Yang seharusnya jadi Wasit, malah ikut bermain ditengah lapangan dan bahkan mencetak gol. Posisi yang seharusnya memantau malah mengkampanyekan. Diposisikan sebagai penengah, malah miring ke kiri atau ke kanan sesuai kemana arah hembusan angin. Masing-masing sudah diberikan posisi tapi sibuk memposisikan diri demi kursi pada musim demokrasi cari posisi seperti sekarang ini.

Komentar

BERITA LAINNYA