oleh

Demokrasi Sambel Belacin

2019, tahun demokrasi cari posisi. Tebaran baliho, spanduk, stiker, kartu nama, video iklan kampanye, kalender, souvenir kampanye, semarak meramaikan setiap sudut jalan. Itulah wajah dan warna-warni demokrasi kita yang tak boleh dihujat, dicaci maki, dibully, karena itu adalah wajah kita semua, yakni wajah Indonesia.

Kepada saya, puluhan bahkan mungkin ratusan orang bertanya: “Mana balihonya? Mana kalendernya? Mana souvenirnya? Mana kaosnya? Mana jilbabnya? Mana oleh-olehnya?”. Saya pun “rada gugup” menjawab: “Alhamdulillah semua itu tidak ada. Karena saya tak mungkin berhutang dan berkampanye melebihi kemampuan saya. Kalau spanduk sih ada, tapi hanya sekedarnya saja. Jangan buat saya menjadi bersyahwat gila terhadap kekuasaan lalu mengenyampingkan kemampuan finansial. Saya ini berpolitik bukan berdagang dan tak pernah berpikir kembali modal” begitulah umumnya jawaban yang saya berikan.

Ada yang sangat menerima jawaban saya dan merangkul dengan kata-kata pujian dan motivasi. Ada yang diam seperti orang kebingungan, ada yang menyeringai senyum pahit seperti mengejek, bahkan tak sedikit yang langsung menjawab menohok: “Mun mudel ka macem ne, paet kek tepileh” (Kalau gaya kamu kayak gini, gak bakalan terpilih).

Komentar

BERITA LAINNYA