oleh

Demokrasi Jorok

Prinsip persatuan yang tidak boleh memberi ruang intoleransi dan segala bentuk hujatan karena perbedaan, ternyata demokrasi kita masih riuh dan gaduh oleh fitnah, hoax, tuduhan. Pesta demokrasi bukan lagi berbicara program, Indonesia agar menjadi besar dihadapan bangsa-bangsa lain, kebangkitan ekonomi rakyat, kedaulatan negeri, tapi pada kenyataannya riuh dan gaduh pada persoalan lebay dan penuh intrik. Pancasila, NKRI dan Kebhennikaan bahkan seringkali dijadikan alat untuk menghantam pihak yang berlawanan. Kita berbicara persatuan tapi kaki dan tangan bekerja memporak-porandakan bangunan keadilan.

Prinsip kerakyatan seharusnya tidak menjadikan bangsa ini dibiarkan riuh dalam gaduh. Pada kenyataan yang terlihat akhir-akhir ini kepentingan kelompok atau golongan diatas kepentingan negara. Kepentingan kekuasaan seseorang diatas kepentingan rakyat. Negara akhirnya berbasis pada demokrasi yang kebijakannya ada di warung kopi dan perhelatan ngerumpi. Prinsip keadilan dikendalikan oleh para pemodal. Para aktor tidak masuk dalam arena pertarungan, tapi sangat mengendalikan siapa yang mujur dan siapa yang tersungkur.

loading...

Nah, demokrasi Pancasila akhirnya nyaris sekedar slogan akibat mencederai rasa keadilan dan kejujuran. Mulut kita berteriak lantang tentang kedamaian, tapi tangan kokang senjata siap memuntahkan peluru. Demokrasi kita masih jauh dari kata bersih, karena terlihat begitu jorok dan lalat-lalat menyerbu luka menganga tak kunjung sembuh bernama demokrasi.

Demokrasi jorok adalah membeli suara-suara rakyat dengan lembaran uang dan memanfaatkan kemiskinan rakyat untuk kekuasaan. Seringkali saya ungkapkan bahwa ketika kesejahteraan rakyat tidak menjadi prioritas, maka jangan bermimpi demokrasi akan bersih sehat.

Komentar

BERITA LAINNYA