oleh

Demokrasi Jorok

*Oleh: Ahmadi Sopyan — Penulis Buku / Pemerhati Sosial

DEMOKRASI jorok adalah mulut berteriak tentang pembangunan, tapi tangan dan kaki merobohkan pondasi keadilan. Di lain sisi, alat negara beralih fungsi menjadi alat penguasa.

—————-

BEBERAPA waktu lalu, dalam perjalanan dari Pangkalpinang ke Mentok, saya ngobrol dengan kawan-kawan tentang sekilas perjalanan demokrasi di Indonesia. Munculnya berbagai fenomena yang tak mengasyikkan, akhirnya tercetus dalam pikiran saya bahwa demokrasi yang kita hadapi akhir-akhir ini menjurus pada perilaku demokrasi jorok.

Padahal, bangsa besar bernama Indonesia adalah bangsa yang menganut demokrasi Pancasila, tidak demokrasi liberal. Artinya, demokrasi yang diusung sungguh beradab dan memiliki norma serta nilai-nilai ketuhanan. Namun, seperti yang pernah diungkapkan oleh Pengamat Politik, Tony Rosyid, bahwa dari 5 Sila dalam Pancasila ternyata tidak cukup direpresentasikan dalam proses dan sistem demokrasi kita. Inilah salah satu faktor mengapa saya menyimpulkan dengan kalimat “demokrasi jorok”.

Prinsip ketuhanan tidak melegalkan uang menjadi Tuhan dalam semua transaksi demokrasi ternyata faktanya terbalik. Uang menjadi kiblat dalam mengambil berbagai keputusan, penentuan calon dan legalisasi. Uang masih menjadi kiblat bagi masyarakat untuk menentukan akan memilih siapa wakilnya. Prinsip kemanusiaan tidak mengijinkan cara-cara premanisme ternyata fakta terbalik di lapangan. Karena seringkali ditemukan sebagai sebuah tradisi yang sangat tidak beradab, persekusi, kriminalisasi, sehingga ini menjadi pendidikan politik buruk bagi generasi masa depan.

Komentar

BERITA LAINNYA