oleh

Dak Matot

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku / Pemerhati Sosial

PERUBAHAN sosial begitu sering mengagetkan kita, termasuk pada perilaku anak-anak dan remaja. Ternyata hal ini tidak lepas dari peran didikan ditengah keluarga & sekolah yang memulainya dengan perilaku “dak matot”

Loading...

loading...

——————-

DULU, saya pernah menegur isteri hanya karena anak saya didatangi oleh seorang Guru Ngaji ke rumah. Setiap sore Sang Guru Ngaji datang guna mengajar putri pertama saya. Untuk beberapa waktu saya memperhatikan dalam diam, termasuk memperhatikan sang guru Ngaji mendatangi rumah tetangga saya untuk hal yang sama.

Suatu saat saya ngobrol dengan Sang Guru Ngaji mengenai aktivitasnya yang setiap hari menggunakan motor datang dari rumah ke rumah guna mengajar private anak-anak usia dini untuk mengaji. Tentunya dibayar per-bulan atau per-minggu oleh sang pemanggil, sebagaimana juga isteri saya.

“Sebentar Pak Ustadz ya. Anaknya lagi mandi”, “Tunggu Pak Ustadz, anaknya lagi makan”, “Maaf Pak Ustadz, hari ini anaknya nggak mau ngaji”. Begitulah kalimat-kalimat yang pernah saya dengar dengan penuh keperihatinan.

Kepada isteri, saya katakan bahwa saya sangat tidak setuju anak-anak kita didatangi oleh Guru untuk mengajarinya, Guru apapun, apalagi ia adalah Guru Ngaji. Karena walaupun saya ini bengal dan nyeleneh bahkan dulu waktu sekolah sering menantang dan melawan guru berkelahi, namun dalam pandangan saya, Guru itu adalah profesi yang sangat terhormat dan tidak bisa hanya karena kita mampu membayar, tapi menurunkan marwah-nya sebagai seorang Guru. Perilaku ini oleh para orangtua kita dulu disebut dengan perilaku “dak matot” alias tidak pantas.

Komentar

BERITA LAINNYA