oleh

Cuaca Buruk, Nelayan Bertahan Hidup dengan “Ngelangkung”

Babelpos.co SUNGAILIAT – Sebagian nelayan di Sungailiat, Kabupaten Bangka kesulitan mencari nafkah saat cuaca buruk sekarang ini. Hal ini dirasakan nelayan yang berdomisili di Kampung Nelayan 1, Lingkungan Nelayan 1, Kelurahan Sungailiat,Supratman alias Acun (39) bersama rekan-rekannya.

“Cuaca seperti ini kita gak bisa melaut, apalagi ada intruksi dari BMKG, kami ini ikut informasi jadi tidak melaut,” ungkap Supratman ditemui babelpos.co di Kampung Nelayan 1, Selasa (29/1/2019).

Ia kisahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para nelayan seperti Supratman bertahan hidup dari sisa tabungan. Sesekali melakukan pekerjaan lain seperti menjadi buruh bangunan. Hal ini untuk membuat dapur tetap mengepul sehingga bisa menghidupi keluarganya.

“Kondisinya sudah hampir tiga bulan ini angin kencang. Kadang kami hanya kumpul temen- temen dak d kegiatan. Kalau dak begitu kadang ape yang bisa kami gawe, kami gawe,” ceritanya.

Disaat tak melaut, para nelayan juga harus mengeluarkan kebutuhan untuk biaya sekolah anak-anak serta biaya lainnya. Para nelayan berharap ada perhatian pemerintah daerah dalam kondisi paceklik ini sehingga bisa lebih meringankan beban untuk menjalani kehidupan.

“Kalau bisa pemda pas kondisi alam cuaca buruk kami nelayan ini tolong diperhatikan. Mungkin walau sedikit ada bantuan sembako untuk kami ni, selama ini belum ada sama sekali perhatian bagi nelayan ketika kondisi cuaca buruk,” sebut nelayan perahu kolek-kolek ini.

Menurutnya, kondisi cuaca normal setelah melewati empat bulan siklus cuaca buruk angin kencang dan gelombang besar. Saat seperti itu lah para nelayan harus mencari alternatif lain guna menyambung kehidupannya.

“Paling seseran lain ngelangkung (kerja serabutan-red) untuk nutupin kebutuhan sehari-hari, yang penting dapat untuk beli beras jadi lah,” tandasnya.

Masalah lainnya, para nelayan dari Kampung Nelayan 1 ini terkendala sedimentasi di alur muara Jalan Laut sebagai akses keluar perahu. Lagi-lagi, minim sekali perhatian pemerintah sebagai pengayom masyarakat nelayan yang sepanjang tahun sulit melewati muara itu serta dihantui resiko kematian. Beberapa rekan-rekannya sudah kerap mengalami kecelakaan hingga kandas, perahu pecah maupun tenggelam.

“Alur muara juga terkendala, diluar ombak kuat, di muara juga kuat. Muara menipis airnya, dangkal, kapal bisa keluar tapi reskio besar. Kalau ngelapor kita uda bosan, kami pernah swadaya gali pakai pacul dan tangan tapi muara itu ketutup lagi. Jadi tolong la pemerintah, perhatikan nelayan saat tidak melaut dan juga alur muara. Gimana solusinya?, kalau turun melaut ada resiko besar bagi kami,” ungkap nelayan lainnya, Udin (41).

Dalam kondisi saat ini pun nelayan tak berani menggadaikan barang-barangnya ke pegadaian untuk sekedar bertahan hidup. Pasalnya, ada kekhawatiran besar barang yang tergadai tak tertebus sehingga membuat nelayan semakin sulit.

“Kalau begadai kami takut tidak ada biaya membayar. Semoga saja sekarang yang musim barat dan nanti musim timur kami masih bisa bertahan. Kalau melaut dengan ombak tiga meter sekarang ini kami tak berani, jadi hanya bisa berusaha di daratan,” sebut pria dengan dua anak ini. (trh).

Komentar

BERITA LAINNYA