oleh

Caleg Gelugud

Detik-detik mendekati hari pemilihan adalah musim pancaroba kekuasaan. Yang sudah duduk dan ingin duduk lagi, semakin deg-degan, yang belum duduk dan sedang berusaha juga tak kalah deg-degan alias “gep gep ser”.

Namun, jika kita memahami makna bahwa Pemilu itu bukanlah sekedar kekuasaan dan kekuasaan itu bukanlah kepentingan pribadi, maka sebetulnya tidak perlu tegang atau menegangkan. Tapi ketika kita menganggap bahwa Pemilu itu hanya kekuasaan dan Kekuasaan itu adalah keuntungan, kehebatan, kenyamanan dan kemewahan pribadi, maka pastinya menegangkan.

loading...

Itulah jawaban saya kepada seorang sahabat dekat yang bertanya: “Kok kamu nyaleg santai banget, nggak tegang sama sekali dan tidak berubah gayamu disaat sebelum nyaleg?”. Gimana gak santai, karena selama nyaleg tak ada yang berubah dalam diri saya kecuali jadwal yang padat bertemu masyarakat, tiap hari pidato dan kemana-mana diikuti dan diawasi. Tapi dasar Ahmadi Sopyan, tetap aja cengengesan khas Bangka. Itu saja!

Musim Pancaroba
Pancaroba kekuasaan adalah musim dimana para kompetitor saling bersaing dan mengerahkan semua kekuatannya. Yang punya modal finansial, maka habis-habisan melakukan segala cara dengan sibuk mendata para calon penerima dan imbal balik suara. Yang punya modal jaringan, “kiyun kene” (kesana kemari) menemui jaringannya. Sedangkan yang hanya punya modal “aek yok” (air liur) dan mental seperti saya, ya sudah cuma pidato dan dialog ditengah masyarakat.

Komentar

BERITA LAINNYA