oleh

Batu Satam dan Politik 2019

Oleh: AHMADI SOPYAN – Penulis Buku / Pemerhati Sosial & Budaya
SATAM telah memberikan filosofi kehidupan pada kita masyarakat Belitung. Mencintai dan menjaga alam nan indah ini adalah kewajiban kita. Karena SATAM bisa diplesetkan sebagai “Selamatkan Alam” atau “Sayang Terhadap Alam”.

———————————

loading...

MUMPUNG sedang berada di Pulau Belitung, Negeri Laskar Pelangi yang nan indah ini dan memberikan ketenangan ini, saya mencoba menulis tentang salah satu khas Pulau Belitung yang tiada duanya, yakni Batu Satam. Apalagi batu Satam telah menjadi ikon bagi Tanjung Pandan sebagai Ibukota Kabupaten Belitung.

Batu Satam adalah batuan khas Pulau Belitung dan satu-satunya di Indonesia. Batu berwarna hitam dan memiliki urat-urat yang sangat khas ini termasuk dalam kategori batu langka. Batu ini bukanlah batu biasa, tapi keberadaannya terbentuk dari hasil proses alam atas reaksi tabrakan meteor dengan lapisan bumi yang mengandung timah tinggi sejak jutaan tahun lalu. Serpihan batu meteor itu tersebar ke seluruh pelosok dunia seperti Australia, Cekoslovakia, Arab dan di Indonesianya hanya ada di satu tempat, yakni di Pulau Belitung.

Saat jatuh di atas tanah Pulau Belitung, meteor ini beraksi dengan kandungan timah yang memang negeri kita (Bangka dan Belitung) adalah negeri timah, sehingga membentuk batu berwarna hitam dan dinamakan Satam. Konon, batu Satam pertama kali ditemukan di Indonesia (Pulau Belitung) pada tahun 1973 tepatnya di Desa Buding Kecamatan Kelapa Kampit. Batu ini ditemukan secara tak sengaja oleh penambang timah beretnis Tionghoa dalam penambangan timah dengan kedalaman 50 meter. Menurut sejarah, nama Satam ini diambil dari nama penemunya yang terdiri dari 2 suku kata, yakni Sa dan Tam. Namun, jika diartikan secara harfiah, “Sa” bermakna pasir dan “Tam” bermakna empedu. Sehingga Satam memiliki arti empedu pasir.

Satam, Alam dan Filosofi Kehidupan
SETIAP apa yang ada dan yang terjadi di alam ini memiliki nilai filosofi kehidupan dan memberikan nilai hidup bagi manusia. Tak ada satupun yang tak bernilai dari apa yang terjadi dan yang diciptakan oleh Sang Pemilik Alam. Bahkan nyamuk yang kecil sekalipun memberikan makna pada kehidupan bahkan juga memberikan kehidupan bagi manusia. Bukankah obat nyamuk diciptakan karena adanya nyamuk? Berapa banyak pabrik berdiri menghidupi manusia karena keberadaan nyamuk? Berapa banyak alat dibuatkan dan dijual sehingga manusia bisa hidup dari makhluk Tuhan yang bernama nyamuk?

Komentar

BERITA LAINNYA