oleh

Baliho Caleg

“Bapak Nyaleg juga?” seperti terkejut. “Nyaleg apa Pak?” ujar seperti tak percaya. “Ya Nyalon Anggota Legislatif lah” jawab saya sedikit kesel. “Dewan kota, Kabupaten apa Provinsi?” Bapak kritis ini masih seperti tak percaya. “Bukan! saya nyaleg DPR RI…..” jawab saya tegas.

“DPR RI???” lagi-lagi Bapak ini seperti tak percaya. Matanya kian melotot melihat saya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Saya cukup menyadari, sepertinya dimata Bapak ini potongan kayak saya ini nggak pantas pakai jas dan dasi. “Tapi…, saya nggak pernah ngeliat baliho Bapak?” tanyanya heran. “Saya nggak ada duit buat bikin Baliho, apalagi dengan nampilkan muka besar sepanjang jalan” saya beri alasan.

“Berat Pak. Kalau dak de baliho, berat Bapak kek terpileh. Ape agik kalau dak de duit. Soalnya tetap harus pakai duit untuk dipileh, Pak. Dak nek urang mileh Bapak kalau dak de duit e. Dak cukup mudel pinter bae” jawab Bapak ini serius. Saya pun tersenyum getir plus khawatir. Tiba-tiba suara azan Maghrib terdengar syahdu. Sang Bapak kritis ini pun beranjak hendak pamitan dari teras rumah saya, tangannya masih sempat mengambil cangkir kopi guna menyeruput kopi yang masih tersisa.

“Okelah Pak. Ko nek pulang ne” ujarnya singkat dan saya pun mengangguk cepat. “Ngomong-ngomong, ade duit dak kek beli bensin? Maklomlah ekonomi agak susah ne” agak berbisik dia sampaikan sambil menyalami tangan saya.

***

NAH, hari ini saya pun menulis tentang Baliho Caleg, sebagaimana saran sang Bapak tersebut. Asyik kan…?
Salam Baliho!(*)

Komentar

BERITA LAINNYA