oleh

Ada Pergeseran Selera Rakyat?

PEMILU demi Pemilu, Pilkada demi Pilkada, tentu membuat rakyat negeri ini kian berpengalaman menghadapinya dan menentukan Pemimpinnya. Rakyat tentu tak sebodoh dulu lagi. Pengalaman sudah mengajarkan.

Oleh: Syahril Sahidir  – CEO Babel Pos

Loading...

loading...

DIKUMPULKAN, diceramahi, dijelaskan program ini program itu, semua mengangguk, semua setuju, semua salut dan semua bagai mendukung. Sebelum pulang, mereka diberi uang saku, diberi beras, diberi mukena, diberi kain sarung, dan sebelumnya diajak memilih ini pada tanggal ini nanti…. Semuanya, yah oke-oke saja….. Wah, ternyata rakyat begitu mudah?

Apa iya?
Kondisi demikianlah yang dihadapi para kandidat dalam setiap Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilukada) dan juga ketika menghadapi Pemilihan Umum Calon Legislatif (Pileg).

Jadilah akhirnya hitung-hitung finansial yang jadi tolok ukur utama bagi para kandidat yang akan bertarung. Persiapan utamanya bukan nama besar, bukan program unggulan, bukan pula sederet strategi. Tapi justru hitung-hitungan finansial yang akan disebar, mulai dari kalender, beras, dan segala bentuk ‘tanda cinta’ lainnya.

Dan, begitu Pilkada usai dan kalah, maka yang dihitung bukan kalah adu program, bukan pula kalah strategi, tapi kekalahan itu dianggap karena finansial yang disebar kurang banyak dari kandidat yang menang. Jadilah akhirnya kekalahan itu disertai dengan pengakuan kalah dalam finansial. Tak pernah ada pengakuan kekalahan karena memang kandidat yang lain jauh lebih baik…..

Komentar

BERITA LAINNYA